Kamis, 20 Agustus 2015

PENERAPAN MODELPEMBELAJARANKOOPERATIFTIPECROSSWORD PUZZLE UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATA PELAJARAN FIQIH MATERI POKOK PUASA RAMADAN SISWA KELAS III MI MIFTAHUL ULUM BRAJA SELEBAH
TAHUN PELAJARAN 2014/2015
                                                               

SKRIPSI
Diajukan sebagai salah satu syarat
Untuk memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Agama Islam (S.Pd.I)
STAI Darussalam Lampung


 




OLEH :
VIVI RAHMAWATI
NPM : 01193 715 1073


SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM (STAI)
DARUSSALAM LAMPUNG
2015
PENERAPAN MODELPEMBELAJARANKOOPERATIFTIPECROSSWORD PUZZLE UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATA PELAJARAN FIQIH MATERI POKOK PUASA RAMADAN SISWA KELAS III MI MIFTAHUL ULUM BRAJA SELEBAH
TAHUN PELAJARAN 2014/2015



SKRIPSI



 



OLEH :
VIVI RAHMAWATI
NPM : 01193 715 1073


SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM (STAI)
DARUSSALAM LAMPUNG
2015



ABSTRAK


Vivi Rahmawati, 01193 715 1073, Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Crossword Puzzle Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa pada Mata Pelajaran Fiqih Materi Pokok Puasa Ramadan Siswa Kelas III MI Miftahul Ulum Braja Selebah Tahun Pelajaran 2014/2015, Skripsi, Way Jepara, Progam Studi Pendidikan Agama Islam, Jurusan Tarbiyah, Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Darussalam Lampung, Way Jepara, Mei 2015.
Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini dilatarbelakangi oleh rendahnya hasil belajar pada mata pelajaran fiqih kelas III di MI Miftahul Ulum Braja Selebah yang dilihat dari 32 siswa hanya 6 siswa atau 18,75% siswa yang telah tuntas belajar. Rendahnya hasil belajar di MI Miftahul Ulum disebabkan karena model pembelajaran yang digunakan oleh guru masih kurang menarik siswa dan masih monoton.
Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar Fiqih pada siswa kelas III MI Miftahul Ulum Braja Selebah melalui penerapan model Pembelajaran Kooperatif  tipe Crossword Puzzle. Variabel terikat (X) dalam penelitian ini adalah Hasil Belajar Siswa, sedangkan variabel bebasnya (Y) adalah Metode Kooperatif Tipe Crossword Puzzle.
Jenis penelitian yang dilakukan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus, masing-masing siklus dua kali pertemuan.  Subyek penelitian peserta didik di MI Miftahul Ulum pada kelas III dengan jumlah 32 peserta didik. Tehnik pengumpulan data menggunakan tes dan dokumentasi. Analisis data yang digunakan adalah analisis kualitatif dan analisis kuantitatif. Analilis data dilakukan sejak pertemuan pra siklus dan setelah pemberian tindakan pada masing-masing siklus yang telah dilakukan.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa metode pembelajaran koopertaif tipe Crossword Puzzle dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas III pada mata pelajaran Fiqih di MI Miftahul Ulum. Ini terbukti dengan adanya peningkatan hasil belajar dengan rata-rata 68,12 dari 32 siswa 16 yang tuntas atau 50% pada siklus I menjadi 76,09 hasil belajar rata-rata dari 32 siswa yang tuntas 25 siswa pada siklus II, dengan presentase peningkatan hasil belajar yaitu 78,12% dari jumlah siswa.
Hal ini menunjukkan bahwa dengan menerapkan metode pembelajaran kooperatif tipe Crossword Puzzle dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Hasil penelitian sebagaimana yang dikemukakan di atas menunnjukan bahwa pembelajaran dengan menerapkan metode kooperatif tipe Crossword Puzzle dapat meningkatkan hassil belajar siswa pada mata pelajaran fiqih siswa kelas III MI Miftahul Ulum Braja Selebah.




BAB I
PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang Masalah
       Menurut Etimologi (Bahasa), fiqih adalah Al-Fahmu (faham). Menurut terminologi, fiqih pada mulanya berarti pengetahuan keagamaan yang mencakup seluruh ajaran agama, baik berupa akidah, akhlak, maupun alamiah (ibadah), yakni sama dengan arti Syari’ah Islamiyah. Fiqih diartikan sebagai bagian dari syariah Islamiyah, yaitu pengetahuan tentang hukum syariah Islamiyah yang berkaitan dengan perbuatan manusia yang telah dewasa dan berakal sehat yang diambil dari dalil-dalil yang terperinci.[1]
Fiqih adalah pengetahuan tentang hukum segala sesuatu menurut ajaran agama islam. Baik yang mengenai cara beribadah yang khusus, seperti mengenai cara mengerjakan sholat, cara berpuasa dan lain sebagainya. Ataupun yang mengenai cara bermasyarakat (pergaulan) antara sesama makhluk seperti cara pinjam-meminjam, cara berkeluarga dan lain sebagainya.[2]
Pelajaran fikih untuk madrasah Ibtidaiyah adalah dalam rangka ikut mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Allah swt., berakhlak mulia, sehat berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.[3] Berdasarkan pendapat di atas maka dapat disimpulkan bahwa pelajaran fikih untuk madrasah ibtidaiyah adalah pengetahuan keagamaan tentang nilai dan hukum Islam baik secara terperinci maupun menyeluruh  yang bertujuan untuk membimbing siswa agar dapat menjadi muslim yang memiliki kepribadian sesuai dengan syariat Islam.
Sesuai dengan tujuan fiqih di atas, maka pelajaran fiqih perlu mendapat perhatian yang lebih baik lagi. Pembelajaran fiqih di sekolah diharapkan menjadi suatu kegiatan yang menyenangkan bagi siswa serta siswa dapat memahami materi secara keseluruhan dan mampu mencapai nilai di atas Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM).
Namun pada kenyataannya berdasarkan  pra survey yang dilakukan di MI Miftahul Ulum Braja Selebah masih banyak siswa yang merasa bosan dan Siswa cenderung melakukan aktifitas lain yang lebih menarik perhatian siswa, misalnya mengobrol dengan temannya, pada saat pembelajaran fiqih berlangsung. Karena metode yang digunakan guru masih monoton.
Kondisi tersebut kurang terpantau oleh guru, karena guru hanya menerangkan materi pelajaran dengan berceramah. Selain itu, dari data hasil ulangan siswa pada mata pelajaran fiqih di MI Miftahul Ulum Braja Selebah menunjukan hasil belajar di bawah rata-rata yaitu 52,19, belum mencapai Kriteria Ketuntasan  Minimal (KKM=70) . Hal itu dapat dilihat tabel berikut:[4]

Tabel 1.1
Nilai Pre-test Siswa Kelas III pada Mata Pelajaran Fiqih Materi Pokok
Puasa Ramadan di MI Miftahul Ulum Braja Selebah Tahun Pelajaran 2014/2015
No
                    Nama
Jenis Kelamin
Nilai
1
Adi Arif Munandar
L
35
2
Adi Sahrul Wafa
L
55
3
Ahmad Zakiy Nurrafiq
L
75
4
Anni Zulfaturrohmah
P
40
5
Ayasha Timur Suminar Jiwatama
L
50
6
Diky Cahya Mukti
L
40
7
Ervina Dwi Ardianti
P
40
8
Fahrur Roziq Mukharor
L
70
9
Fani Adelia Senja
P
35
10
Ghin Farikhah Zakiyah
P
45
11
Helmy Mustafa
L
65
12
Kailila Revi Asyava
P
50
13
M. Wildanum Mukholadun
L
55
14
M. Zidan Assidiqy
L
60
15
Meylan Anjani Adi Yansa
P
50
16
Mohamad Mulla Faqih Sanggala
L
70
17
Muhammad Kafa Bihi
L
60
18
Muhammad Khoirul Anam
L
40
19
Muhammad Musyafa' Al-Baihaqi
L
50
20
Niko Hayu Sunarto
L
55
21
Ranjesa Rizka Sutrisno
P
55
22
Risya Lutfiana
P
50
23
Rizki Aditia Pratama
L
50
24
Rizky Fajar Firdaus
L
75
25
Sah Halal Azami
L
85
26
Salwa Nur Azizah
P
30
27
Sintya Wulandari
P
50
28
Siti Muntamah
P
50
29
Suci Permata Sari
P
55
30
Tantri Febriana
P
30
31
Wahyu Cahya Firdaus
L
30
32
Zainur Rosadi
L
70
Keterangan: prasurvey di MI Miftahul Ulum Braja Selebah kelas III tanggal 31 Maret 2015 dengan membagi angket soal.

Tabel 1.2
Presentase Nilai siwa kelas III pada Mata Pelajaran Fiqih
No
Nilai Prestasi Belajar
KKM
Frekuensi (n)
Presentasi (%)
1
90 – 100
70
0
0 %
2
70 – 89
6
18,75 %
3
60 - 69
3
9,37%
4
50 – 59
13
40,62 %
5
00 – 49
10
31,25%
Jumlah
32
100%

Dari  tabel  di atas dapat diketahui dari 32 siswa hanya 6 siswa (18,75%) yang telah tuntas belajar, dan yang belum tuntas sebanyak 26 siswa (81.25%). Karena rendahnya hasil belajar siswa dalam pembelajaran ini, diperlukan suatu model pembelajaran yang tepat, menarik, inovatif, kreatif, dan harus efektif sehingga siswa dapat aktif dalam kegiatan pembelajaran dan dapat menghasilkan apa yang harus dikuasai siswa setelah proses pembelajaran berlangsung. Oleh karena itu, salah satu usaha untuk menumbuhkan dan meningkatkan hasil belajar peserta didik adalah dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Crossword Puzzle.
Pembelajaran  kooperatif  mewadahi bagaimana peserta didik dapat bekerja sama dalam kelompok, tujuan kelompok adalah tujuan bersama. Konsekuensi positif dari pembelajaran ini adalah siswa diberi kebebasan untuk terlibat secara aktif dalam kelompok mereka. Dalam lingkungan pembelajaran kooperatif, siswa harus menjadi partisipan aktif dan melalui kelompoknya, dapat membangun komunitas pembelajaran (learning comunity) yang saling membantu antar satu sama lain.[5]
Crossword Puzzle adalah menyusun tes peninjauan kembali dalam bentuk teka-teki silang akan mengundang minat dan partisipasi siswa. Teka-teki silang bisa diisi perseorangan atau kelompok.[6] Teknik ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk saling membagikan ide-ide dan mempertimbangkan jawaban yang paling tepat. Selain itu juga mendorong siswa untuk meningkatkan semangat kerja sama mereka[7].
Melalui model pembelajaran kooperatif tipe Crossword Puzzle guru dapat membantu peserta didik mendapatkan informasi, ide, keterangan, cara berfikir dan mengekspresikan ide karena model pembelajaran berfungsi pula sebagai pedoman bagi para perancang pembelajaran dan para guru dalam merencanakan aktivitas belajar mengajar.[8] Jadi, sebagai pengajar perlu menerapkan model pembelajaran yang dapat membantu siswa untuk memahami materi ajar supaya hasil belajar yang diperoleh lebih meningkat.
B.       Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka masalah yang diteliti dalam penelitian tindakan kelas (PTK) ini dapat diidentifikasikan sebagai berikut:
1.    Rendahnya hasil belajar siswa dalam mata pelajaran Fiqih.
2.    Metode yang digunakan oleh guru dalam pembelajaran Fiqih masih monoton.
3.    Ketuntasan hasil belajar fiqih kelas III MI Miftahul Ulum sebelumnya baru mencapai 18,75 %.
C.      Pembatasan Masalah
Untuk menghindari meluasnya pembahasan maka penulis membatasi pada masalah “Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Crossword Puzzle untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa pada Mata Pelajaran  Fiqih Siswa Kelas III MI Miftahul Ulum  Braja Selebah Tahun Pelajaran 2014/2015
D.      Rumusan  Masalah
Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah di atas maka peneliti dapat merumuskan masalahnya yaitu: Apakah dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Crossword Puzzle dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran fiqih di MI Miftahul Ulum Braja Selebah Tahun  Ajaran 2014/2015?
E.       Tujuan Penelitian
 Sesuai dengan permasalahan di atas, penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar Fiqih pada siswa kelas III MI Miftahul Ulum Braja Selebah melalui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Crossword Puzzle.

F.       Manfaat Penelitian
Dari hasil penelitian ini dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Crossword Puzzle diharapkan dapat berguna sebagai berikut :
1.      Manfaat Teoritik Akademik
Dapat menambah pemahaman terhadap pendekatan teori pada penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Crossword Puzzle.
2.      Manfaat Praktis
a.       Bagi guru MI akan menciptakan model pembelajaran yang bermakna sehingga diminati oleh peserta didik serta mendapat wawasan dalam keterampilan pembelajaran yang dapat digunakan dalam proses belajar mengajar.
b.      Bagi siswa akan memperoleh pelajaran fiqih yang lebih menarik serta dapat meningkatkan motivasi peserta didik dengan di terapkannya model pembelajaran kooperatif tipe Crossword Puzzle sehingga peserta didik akan merasakan pentingnya belajar fiqih.
c.       Bagi peneliti sebagai calon guru hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai pertimbangan jika  menggunakan metode pembelajaran untuk melakukan inovasi-inovasi dalam Pembelajaran. Dan juga dapat menambah pengalaman dan ilmu pengetahuan dengan adanya pembelajaran cooperative khususnya tipe Crossword Puzzle.






[1] Rachmat Syafe’i, Fiqih Muamalah, (Bandung: CV Pustaka Setia,2001) hal 13-14
[2] Imam Zarkasi, Pelajaran Fiqih 1 Syahadat, Thaharah, dan Shalat, (Ponorogo:Trimurti, 1995)  hal 1
[3]Anis Tanwir Hadi, Pengantar Fikih 3 untuk kelas III Madrasah Ibtidaiyah, (Surakarta: PT Tiga Serangkai Pustaka Mandiri, 2008) hal V
[4]Prasurvey di MI Miftahul Ulum Braja Selebah,  Tanggal 31 Maret 2015
[5]Miftahul Huda, Cooperative Learning (Metode, Teknik, struktur dan model penerapan). (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2011 ) hal 33
[6] Melvin L. Silberman, Aktive Learning 101 Cara Belajar Siswa Aktif.(Bandung: Nusamedia, 2013) hal 256
[7] Syaiful Bahri Djamarah, Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif, (Jakarta: Rineka Cipta, 2010) hal 405
[8] Agus Suprijono, Cooperative Learning (Teori dan aplikasi PAIKEM), (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009) hal 46


BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A.    Landasan Teori
1.      Pembelajaran Kooperatif
a.      Pengertian Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran yang mengutamakan kerja sama untuk mencapai tujuan pembelajaran. Pembelajaran kooperatif (cooperative learning) merupakan bentuk pembelajaran dengan cara siswa belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil secara kolaboratif, yang anggotanya terdiri dari 4 sampai dengan 6 orang, dengan struktur kelompok heterogen.[1]
Pada prinsipnya, cooperative learning merupakan suatu pembelajaran yang mengedepankan kerjasama dalam menyelesaikan tugas-tugas terstruktur.Samsul menyatakan bahwa dalam kegiatan kooperatif terjadi pencapaian tujuan secara bersama-sama yang sifatnya merata dan menguntungkan setiap anggota kelompoknya.[2]Pembelajaran kooperatif merupakan model pembelajaran dengan menggunakan sistem pengelompokan/tim kecil,  yaitu antara empat sampai enam orang  yang mempunyai latar belakang kemampuan akademik, jenis kelamin, ras, atau suku yang bebeda.[3]
Berdasarkan beberapa pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa Pembelajaran Kooperatif merupakan pembelajaran dalam kelompok kecil, dimana peserta didik saling membantu memahami materi pelajaran, menyelesaikan tugas atau kegiatan lain agar semua peserta didik dalam kelompok memperoleh hasil belajar yang tinggi demi mencapai tujuan bersama.
b.      Teori yang mendasari Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran kooperatif sudah banyak tertanam dalam teori-teori masa kini. Teori tersebut umumnya menampilkan suatu perspektif tertentu yang dalam pembelajaran kooperatif telah menjadi paradigma tersendiri.[4] Beberapa perspektif teoritis diantaranya:
1)        Teori Motivasional
Perspektif motivasional berasumsi bahwa usaha-usaha kooperatif haruslah didasarkan pada penghargaan kelompok (group reward) dan struktur tujuan (goal struktur).[5] Teori motivasi dalam pembelajaran kooperatif menekankan pada derajat perubahan tujuan kooperatif mengubah insentif bagi siswa untuk melakukan tugas-tugas akademik.[6]
Berdasarkan teori motivasi tentu dapatmenjadikan anggota kelompok agar termotivasi untuk saling membantu serta mendorong teman-temannya untukberusaha maksimal demi mencapai tujuan mereka bersama-sama.
 Teori motivasi sangat erat kaitannya dengan pembelajaran kooperatif  yaitu dengan adanya motivasi diantara setiap anggota kelompok maka mereka akan saling memberikan pendapat masing-masing serta saling mendukung untuk menyelesaikan tugas kelompok dalam pembelajaran kooperatif yang diterapkan. Dengan demikian teori motivasional juga bertujuan untuk mendorong siswa agar sukses/berhasil bersama dengan anggota kelompoknya untuk satu tujuan yang nantinya juga bisa dirasakan bersama-sama.
2)        Teori Kognitif
Pandangan teori belajar ini dikemukakan oleh Jean Piaget dan Lev Vygotsky. Menurut Piaget ketika individu bekerja bersama, konflik sosiokognitif terjadi dan menciptakan ketidakseimbangan yang menstimulus pandangan, mengangkat kemampuan dan pemikiran. Teori Vygotsky menyajikan pengetahuan sebagai produk sosial.[7]Teori perkembangan Piaget mewakili konstruktivisme yang memandang perkembangan kognitif sebagai suatu proses di mana anak secara aktif membangun sistem makna dan pemahaman realitas melalui pengalaman-pengalaman dan interaksi-interaksi mereka.[8]
Vygotsky juga yakin bahwa pembelajaran terjadi saat siswa bekerja menangani tugas-tugas yang belum dipelajari namun tugas-tugas tersebut masih dalam jangkauan kemampuannya atau tugas-tugas itu berada dalam zona of proximal development mereka. Zona of proximal developmentadalah daerah antar tingkat perkembangan sesungguhnya yang didefinisikan sebagai kemampuan memecahkan masalah secara mandiri dan tingkat perkembangan potensial yang didefinisikan sebagai kemampuan pemecahan masalah di bawah bimbingan orang dewasa atau teman sebaya yang lebih mampu.[9]
Dari beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa teori kognitif dalam  penerapannya  pada pembelajaran kooperatif yaitu karena siswa akan saling memunculkan pemahaman masing-masing yang nyata dalam kehidupan mereka, sehingga para siswa akan saling berinteraksi untuk menyatukan pendapat yang berbeda dengan bekerjasama untuk mencapai hasil belajar yang lebih baik.
3)        Teori Belajar Konstruktivisme
Pembelajaran kooperatif bernaung dalam teori konstruktivisme. Pembelajaran ini muncul dari konsep bahwa siswa akan lebih mudah menemukan dan memahami konsep yang sulit jika mereka saling berdiskusi dengan temannya.[10]Menurut Vygotsky, dalam pandangan konstruktivis sosial, mental siswa pertama kali berkembang pada level interpersonal dimana mereka belajar menginternalisasikan dan menstranformasikan interaksi interpersonal mereka dengan orang lain, lalu pada level intra-personal dimana mereka mulai memperoleh pemahaman dan keterampilan baru dari hasil interaksi ini.[11]
Secara sosiologis, pembelajaran konstruktivisme menekankan pentingnya lingkungan sosial dalam belajar dengan menyatakan bahwa integrasi kemampuan dalam belajar kolaboratif dan kooperatif akan dapat meningkatkan pengubahan secara konseptual. Keterlibatan dengan orang lain membuka kesempatan bagi peserta didik untuk mengevaluasi dan memperbaiki pemahaman mereka saat mereka bertemu dengan pemikiran orang lain dan saat mereka berpartisipasi dalam pencarian pemahaman bersama.[12]
Teori konstruktivisme adalah suatu teori yang menekankan pentingnya lingkungan sosial dalam belajar dengan menyatakan bahwa gabungan dari masing-masing kemampuan dalam pembelajaran kooperatif akan dapat meningkatkan pemahaman bersama.
Penerapan teori konstruktivisme terhadap pembelajaran kooperatif adalahsuatu proses belajar mengajar interaksi sosial yang dapat memberikan pengalaman serta ide dan pemikiranpada  peserta didik. Dengan berinteraksi, mereka dapat memahami masalah dengan lebih baik daripada sebelumnya dan hal ini tentu saja akan berpengaruh  terhadap gaya belajar mereka sendiri dan juga berpengaruh kepada hasil belajar mereka.

c.       Tipe-tipe pembelajaran kooperatif
Model pembelajaran kooperatif yang didalamnya terdapat banyak variasi atau tipe dari model  tersebut. Setidaknya terdapat lima pendekatan yang seharusnya merupakan bagian dari kumpulan strategi guru dalam menerapkan model pembelajaran kooperatif diantarannya yaitu Belajar Ala Jigsaw, Group Investigation, NHT (Numbered Head Together), Think Pair Share, dan Crossword Puzzle.
Perbandingan beberapa model pembelajaran kooperatif dapat dijelaskan sebagai berikut:
1.)    Kooperatif Belajar ala Jigsaw
Belajar ala Jigsaw (menyusun potongan gambar) merupakan tehnik yang serupa dengan pertukaran kelompok dengan kelompok, namun ada satu perbedaan penting: yakni tiap siswa mengajarkan sesuatu. Ini merupakan alternatif menarik bila ada materi belajar yang bisa disegmentasikan atau dibagi-bagi dan bila bagiannya harus diajarkan secara berurutan. Tiap siswa mempelajari sesuatu yang bila digabungkan dengan materi yang dipelajari oleh siswa lain, membentuk kumpulan pengetahuan atau keterampilan yang padu.[13]
2.)  Kooperatif Tipe Group Investigation
Metode Group Investigation atau Investigasi kelompok merupakan model pembelajaran kooperatif yang paling kompleks dan paling sulit untuk diterapkan.[14] Pendekatan ini memerlukan norma dan struktur kelas yang lebih rumit daripada pendekatan yang lebih berpusat pada guru.[15]
Penerapan dari investigasi kelompok ini yaitu guru membagi kelas menjadi kelompok-kelompok dengan anggota 5 atau 6 siswa yang heterogen. Dalam beberapa kasus, kelompok dapat dibentuk dengan mempertimbangkan keakraban persahabatan atau minat yang sama dalam topik tertentu. Selanjutnya siswa memilih topik untuk diselidiki, dan melakukan penyelidikan yang mendalam atas topik yang dipilih itu.Selanjutnya siswa menyiapkan dan mempresentasikan laporannya kepada seluruh kelas.[16]
3.)  Kooperatif Tipe NHT (Numbered Head Together)
Numbered Head Together atau penomoran berfikir bersama merupakan “jenis pembelajaran kooperatif yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa sebagai alternative terhadap struktur kelas tradisional. Numbered Head Together pertama kali dikembangkan oleh Spenser Kagen untuk melibatkan lebih banyak siswa dalam menelaah materi yang tercakup dalam suatu pelajaran dan mengecek pemahaman mereka terhadap isi pelajaran tersebut.[17]
Numbered Head Together merupakan model pembelajaran dimana siswa diberi nomor kemudian dibuat suatu kelompok kemudian secara acak guru memanggil nomor dari siswa.[18] Jumlah kelompok sebaiknya mempertimbangkan sebuah konsep yang dipelajari. Jika jumlah peserta didik dalam satu kelas terdiri dari 40 orang dan terbagi menjadi 5 kelompok berdasarkan konsep yang di pelajari, maka tiap kelompok terdiri dari 8 orang. Tiap-tiap orang dalam kelompok diberi nomor 1-8.[19]
Teknik dalam pembelajaran Numbered Head Together (NHT) ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk saling membagikan ide-ide dan mempertimbangkan jawaban yang paling tepat. Selain itu juga mendorong siswa untuk meningkatkan semangat kerja sama mereka. Teknik ini bisa digunakan dalam semua mata pelajaran dan untuk semua usia tingkatan anak didik.[20]
     4).  Kooperatif Tipe Think Pair Share (TPS)
Model kooperatif tipe TPS atau berfikir berpasangan berbagi adalah merupakan jenis pembelajaran kooperatif yang yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa.[21] Pertama-tama,siswa diminta untuk berpasangan. Kemudian guru mengajukan satu pertanyaan/masalah kepada mereka. Setiap siswa diminta untuk berpikir sendiri-sendiri dulu tentang jawaban atas pertanyaan itu. Setelah itu guru meminta pasangan untuk menshare, menjelaskan, atau menjabarkan hasil konsensus atau jawaban yang telah mereka sepakati pada siswa-siswa lain di ruang kelas.[22]
Model pembelajaran kooperatif  tipe ini siswa dituntut untuk mampu berfikir dalam menyelesaikan masalah baik secara individu maupun kelompok.
5). Kooperatif Tipe Crossword Puzzle
Kooperatif tipe Crossword Puzzle adalah suatu pembelajaran yang menyusun tes peninjauan kembali materi yang sudah disampaikan dalam bentuk teka-teki silang yang diisi secara perseorangan atau kelompok.[23]
Penelitian ini menggunakan model pembelajaran kooperatif dengan tipe Crossword Puzzle (Teka-teki Silang), karena teka teki silang ini berguna untuk mengasah otak bagi yang mengerjakannya. Ternyata teka teki silang bukan hanya dilakukan oleh orang dewasa saja, tetapi anak-anak juga dapat mengisi teka teki silang dengan materi pelajaran. Hal ini menguntungkan guru untuk melakukan metode pembelajaran dengan menggunakan teka-teki silang dalam pembelajaran.
Strategi belajar Crossword Puzzle, melibatkan partisipasi peserta didik aktif sejak kegiatan pembelajaran dimulai. Peserta didik diajak untuk turut serta dalam semua proses pembelajaran, tidak hanya mental akan tetapi juga melibatkan fisik. Dengan ini peserta didik akan merasakan suasana yang lebih menyenangkan sehingga hasil belajar dapat dimaksimalkan.[24]
2.      Model Pembelajaran Kooperatif TipeCrossword Puzzle
Dalam kamus Bahasa Indonesia teka-teki silang (Crosword Puzzle) adalah teka-teki pengisian kotak-kotak dengan kata-kata atau huruf.[25]Metode Crossword Puzzle ini merupakan susunan tes peninjauan kembali dalam bentuk teka-teki silang yang dapat mengundang minat dan partisipasi peserta didik.Teka-teki silang ini bisa diisi secara perseorangan atau kelompok.
a.         Langkah–langkah PenerapanCrossword Puzzle
Di dalam model pembelajaran kooperatif tipe Crossword Puzzle ada beberapa langkah yang harus dilakukan, yaitu:[26]
1)        Langkah pertama adalah dengan menjelaskan beberapa istilah atau nama-nama penting yang terkait dengan mata pelajaran yang telah  Anda ajarkan.
2)        Susunlah sebuah teka-teki silang sederhana, dengan menyertakan banyak mungkin unsur pelajaran. (Catatan: jika terlalu sulit untuk membuat teka-teki silang tentang apa yang terkandung dalam pelajaran, sertakan unsur-unsur yang bersifat menghibur, yang tidak mesti berhubungan dengan pelajaran sebagai selingan.)
3)        Susunlah kata-kata pemandu pengisian teka-teki silang anda.
Gunakan jenis yang berikut ini:
(a)      Definisi singkat (“sebuah tes untuk menentukan reliabilitas”)
(b)      Sebuah kategori yang cocok dengan unsurnya (“jenis gas”)
(c)      Sebuah contoh (“...undang-undang adalah contohnya”)
(d)     Lawan kata (“lawan kata demokrasi”)
4)        Bagikan teka-teki itu kepada siswa, baik secara perseorangan maupun kelompok.
5)        Tetapkan batas waktunya. Berikan penghargaan kepada individu atau tim yang paling banyak memiliki jawaban benar.
b.        KeunggulanCrossword Puzzle
Keunggulan Crossword Puzzle ini yaitu lebih simpel untuk diajarkan, selain itu dapat melatih ketelitian atau kejelian siswa dalam menjawab pertanyaan dan mengasah otak.
c.         KelemahanCrossword Puzzle
Setiap metode pembelajaran pasti memiliki kelebihan dan kekurangan. Kekurangan atau kelemahan dari metode pembelajaran Crossword Puzzle ini adalah setiap jawaban teka-teki silang hurufnya ada yang berkesinambungan. Jadi siswa merasa bingung apabila tidak bisa menjawab salah satu soal dan itu akan berpengaruh pada jawaban siswa yang hurufnya berkaitan dengan soal yang siswa tidak bisa menjawab.
Selain itu metode ini hanya bisa diberikan pada akhir pembelajaran untuk dijadikan evaluasi oleh guru untuk mengetahui sejauh mana pemahaman siswa setelah melakukanpembelajaran.
d. Cara Mengurangi Kelemahan Crossword Puzzle
Untuk mengurangi kelemahan dalam metode pembelajaran Crossword Puzzle ini yaitu dengan cara pemberian bonus huruf pada kotak jawaban baik yang mendatar maupun yang menurun. Hal ini dapat mengurangi kesalahan siswa dalam menjawab pertanyaan karena sudah ada huruf yang ditentukan dalam kotak jawaban.[27]         
3.    Hasil Belajar
Untuk dapat melihat peningkatan dalam pembelajaran seseorang pendidik harus mampu mengukur penguasaan peserta didik terhadap konsep materi yang telah diberikan dengan melihat hasil belajar peserta didik. Hasil belajar sering kali digunakan untuk mengetahui seberapa jauh seseorang menguasai bahan yang diajarkan.[28]
Hasil belajar dapat dijelaskan dengan memahami dua kata yang membentuknya, yaitu “hasil” dan “belajar”. Kata hasil menunjukkan pada produk atau perolehan sebagai akibat dilakukannya sebuah proses yang menyebabkan terjadinya perubahan pada input dari sebuah sistem. Belajar menunjuk pada sebuah proses yang ditandai dengan adanya interaksi antara komponen-komponen pembelajaran. Hasil belajar merupakan dasar untuk menentukan tingkat keberhasilan siswa dalam proses belajarnya.[29]
Menurut Bloom, hasil belajar mencakup kemampuan kognitif, afektif dan psikomotorik.[30]Dalam taksonomi Bloom tujuan pembelajaran dapat diklasifikasikan kedalam tiga ranah (domain) yaitu:
1.      Domain kognitif, berkenaan dengan kemampuan dan kecakapan-kecakapan intelektual berpikir.
2.      Domain afektif, berkenaan dengan sikap, penguasaan segi-segi emosional yaitu perasaan sikap dan nilai.
3.      Domain psikomotorik, berkenaan dengan satu keterampilan-keterampilan atau gerakan-gerakan fisik.[31]
Hasil belajar merupakan prestasi belajar yang dimiliki peserta didik setelah mengikuti kegiatan belajar untuk mengetahui sebatas mana mereka memahami serta mengerti materi tersebut.Pemberian tekanan penguasaan materi akibat perubahan diri siswa setelah belajar diberikan oleh Soedijarto yang mendefinisikan hasil belajar sebagai tingkat penguasaan yang dicapai oleh siswa dalam mengikuti proses belajar mengajar sesuai dengan tujuan pendidikan yang ditetapkan.[32]
Berdasarkan beberapapendapat di atas dapat disimpulkan bahwa hasil belajar merupakan suatu dasar dalam menentukan tingkat keberhasilan siswa yang ditandai dengan perubahan diri siswa terhadap penguasaan sejumlah bahan yang diberikan dalam proses belajar mengajar yang mencakup aspek kognitif, afektif dan psikomotorik.
Penelitian ini mengukurdari hasil belajar yaitu siswa mampu mencapai penguasaan materi serta adanya perubahan dalam aspek kognitif yaitu siswa mampu mengingat (remember), memahami (understand), menerapkan (apply), menganalisis (analyze), mengevaluasi (evaluate), dan mencipta (create) dalam proses belajar mengajar yang ditandai dengan meningkatnya hasil belajar peserta didik itu sendiri.
4.      Mata Pelajaran Fiqih
a.       Pengertian  Fiqih
Menurut bahasa “fiqih” berasal dari kata faqiha-yafqahu-fiqihan yang berarti mengerti atau paham berarti juga paham yang mendalam. Dari sinilah ditarik perkataan fiqih, yang memberi pengertian kepahaman dalam hukum syariat yang sangat dianjurkan oleh Allah dan Rasul-Nya.Definisi fiqih secara umum, ialah suatu ilmu yang mempelajari bermacam-macam syariat atau hukum islam dan berbagai macam aturan hidup bagi manusia, baik yang bersifat individu maupun yang berbentuk masyarakat sosial.[33]
Ilmu fiqih secara umum adalah suatu ilmu yang mempelajari bermacam-macam aturan hidup bagi manusia, baik yang bersifat individu maupun yang berbentuk masyarakat sosial. Ilmu fiqih merupakan suatu kumpulan ilmu yang sangat besar gelanggang pembahasannya, yang mengumpulkan berbagai ragam jenis hukum Islam dan bermacam rupa aturan hidup, untuk keperluan seseorang, segolongan, masyarakat, dan seumumnya manusia.[34]
Fiqih menurut Imam Zarkasy adalah pengetahuan tentang hukum segala sesuatu menurut ajaran agama islam. Baik yang mengenai cara beribadah yang khusus, seperti mengenai cara mengerjakan sholat, cara berpuasa dan lain sebagainya. Ataupun yang mengenai cara bermasyarakat (pergaulan) antara sesama makhluk seperti cara pinjam-meminjam, cara berkeluarga dan lain sebagainya.[35]
Berdasarkan pendapat diatas, maka dapat disimpulkan bahwa fiqih adalah ilmu yang membahas tentang hukum-hukum Islam (syara’) melalui jalan ijtihad yang diperoleh atau berdasarkan dalil-dalil yang tafsili atau terperinci. Adapun mata pelajaran fiqih dapat dipahami sebagai satuan bidang ilmu(bidang studi) atau pokok bahasan dalam kurikulum yang materinya bermuatan hukum-hukum Islam digali berdasarkan rasio dari dalil-dalil yang tafsili.
b.      Pembelajaran Fiqih di Madrasah Ibtidaiyah (MI)
Pembelajaran fiqih untuk tingkat dasar yaitu sebagai pengantar fiqih untuk Madrasah Ibtidaiyah (MI) adalah dalam rangka ikut mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Allah swt., berakhlak mulia, sehat berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.[36]
Mata pelajaran Fiqih di Madrasah Ibtidaiyyah bertujuan untuk membekali peserta didik agar dapat:
a)      Mengetahui dan memahami cara- cara pelaksanaan hukum Islam baik yang menyangkut aspek ibadah maupun muamalah untuk dijadikan pedoman hidup dalam kehidupan pribadi dan sosial.
b)      Melaksanakan dan mengamalkan ketentuan hukum Islam dengan benar dan baik, sebagai perwujudan dan ketaatan dalam menjalankan ajaran agama Islam baik dalam hubungan manusia dengan Allah, dengan diri manusia itu sendiri, sesama manusia, makhluk lainnya ataupun lingkungannya.
Permenag No. 2 Tahun 2008 didalamnya menjelaskan bahwa Standar Kompetensi Lulusan mata pelajaran Fiqih di Madrasah Ibtidaiyah  ialah siswa mampu mengenal dan melaksanakan hukum Islam yang berkaitan dengan rukun Islam, mulai dari ketentuan dan tata cara pelaksanaan thaharah, shalat, puasa, zakat, sampai dengan pelaksanaan ibadah haji, serta ketentuan tentang makanan dan minuman, khitan, kurban dan cara pelaksanaan jual beli dan pinjam meminjam.[37]
Mempelajari fiqih dari kecil itu bisa dijadikan pengamalan atau pengetahuan yang diharapkan untuk menumbuhkan ketaatan menjalankan hukum islam, disiplin, dan tanggung jawab sosial yang tinggi dalam kehidupan pribadi maupun sosial. Dengan demikian, jelaslah bahwa mata pelajaran fiqih sangat penting sesuai dengan apa yang dikembangkan serta diharapkan dapat memahami dan mengamalakan syari’at Islam dalam kehidupan dan bertaqwa kepada Allah SWT.
c.       Ruang Lingkup Mata Pelajaran Fiqih di MI
Ruang lingkup mata pelajaran Fiqih di Madrasah Ibtidaiyyah meliputi:
1).  Fiqih ibadah; yang menyangkut pengenalan dan pemahaman tentang cara pelaksanaan rukun Islam yang benar dan baik, seperti: tata cara thaharah, shalat, puasa, zakat, ibadah haji.
2).  Fiqih Muamalah; yang menyangkut pengenalan dan pemahaman mengenai ketentuan tentang makanan dan minuman yang halal dan haram, khitan, kurban serta tata cara pelaksanaan jual beli dan pinjam meminjam.[38]
Penelitian ini dibatasi pada materi pokok puasa Ramadan yaitu pada subbab “Puasa Ramadan” dengan Materi ajar yang disampaikan tentang pengertian puasa,syarat wajib puasa, rukun puasa, hal-hal yang membatalkan puasa, orang yang boleh meninggalkan puasa, niat puasa Ramadan, doa buka puasa, serta melaksanakan puasa Ramadan dengan baik dan benar.
5.      Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif TipeCrossword Puzzlepada Siswa Kelas III MI dalam Pembelajaran Fiqih
Proses pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Crossword Puzzle terlebih dahulu siswa diberi penjelasan mengenai materi yang akan dipelajari yakni materi Puasa Ramadan. Setelah itu, 32 siswa MI dibagi menjadi 16 kelompok dengan masing masing kelompok terdiri dari dua anak.Dengan rincian, masing-masing anak yang mendapat nilai rendah dipasangkan dengan anak yang mendapat nilai tinggi.
Langkah yang dilakukan selanjutnya adalah guru membagikan Lembar Kegiatan Siswa (LKS) yang sudah dibuat oleh guru dengan model pembelajaran kooperatif tipe Crossword Puzzle, kemudian setiap kelompok disuruh mengerjakan dengan pasangan kelompoknya masing-masing dan diberi waktu 15 menit untuk mengerjakan soal. Setelah waktu habis harus dikumpul LKSnya kemudian kelompok yang mengisi kotak jawaban lebih banyak dan benar maka akan diberi skor 100 atau mendapatkan hadiah.
Langkah selanjutnya adalah guru bersama siswa menyimpulkan materi yang telah dipelajari kemudian melakukan evaluasi pada pada pertemuan berikutnya untuk mengukur kemampuan mereka.
B.     Hasil Penelitian yang Relevan
Hasil penelitian yang relevan dengan penelitian ini adalah Skripsi di Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang, hasil penelitian yang dilakukan oleh M. Husein (2010) yang menyimpulkan bahwa pembelajaran kooperatif melalui strategi Crossword Puzzle terbukti dapat meningkatkan motivasi belajar akidah akhlak khususnya materi Akhlak Terpuji dan Akhlak Tercela pada siswa kelas VII MTS Yaspuri di Malang. [39]
Selain itu juga Skripsi di Universitas Muhammadiyah Fakultas Agama Islam Ponorogo, hasil penelitian yang dilakukan oleh Iin Nasi’ah (2014) dengan menerapkan metode Crossword Puzzle dapat meningkatkan prestasi belajar Pendidikan Agama Islam dengan materi Asmaul Husna pada siswa kelas V Sekolah Dasar Negeri Kemuning IV Kecamatan Tegalombo Kabupaten Pacitan.[40]
Perbedaan dengan penelitian terdahulu yaitu M. Husein meneliti tentang motivasi belajar Akidah Akhlak materi Akhlak Terpuji dan Akhlak Tercela, dan Iin Nasi’ah meneliti tentang prestasi belajar PAI materi Asmaul Khusna.Sedangkan penelitian ini meneliti tentang hasil belajar Fiqih materi pokok Puasa Ramadan.
C.    Kerangka Fikir
Kerangka fikir merupakan jalan atau alur fikiran dalam rangka mencapai kearah pemecahan masalah menggunakan atau memilih metode tertentu dengan salah satu judul penerapan model pembelajaran kooperatif tipeCrossword Puzzleuntuk meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran fiqih siswa kelas III MIMiftahul Ulum Braja Selebah tahun pelajaran 2014/2015. Adapun gambar kerangka fikir adalah sebagai berikut:

Rounded Rectangle: Model Pembelajaran Crossword PuzzleGambar 1Oval: SiswaRounded Rectangle: Hasil Belajar Meningkat
                                                                                             

Maksud dari gambar 1 yaitu dengan menerapkan model pembelajaran Crossword Puzzle kepada siswa kelas III MI Miftahul Ulum  dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran fiqih materi pokok Puasa Ramadan.
D.    Hipotesis
Hipotesis tindakan merupakan jawaban sementara terhadap masalah yang dihadapi, sebagai alternatif tindakan yang dipandang paling tepat untuk memecahkan masalah yang telah dipilih untuk diteliti melalui PTK.[41]
Dugaan sementara pada penelitian tindakan kelas ini adalah dengan menggunakan modelpembelajaranCrossword Puzzledapat meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran Fiqih di MI Miftahul Ulum Braja Selebah Tahun Ajaran 2014/2015 .




[1]Abdul Majid, Strategi Pembelajaran, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya. 2014) hal 174
[2] Taman Firdaus, Pembelajaran Aktif (Aspek, Teori dan Implementasi), (Yogyakarta: Elmatera, 2012) hal 149
[3]Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2006) hal 242
[4]Miftahul Huda.Cooperative Learning (Metode, Teknik, struktur dan model penerapan). (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2011) hal33
[5]Ibid, hal 34
[6]Robert E.Slavin. Cooperative Learning Teori, Riset dan Praktik, (Bandung: Media, 2005) hal 36
[7]Syaiful Bahri Djamarah, Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif, (Jakarta: Rineka Cipta, 2010) hal 364
[8]Ibid
[9] Riezcha Aniez M, Teori Pembelajaran Vygotsky dalam Cooperative Learning, http://penembushayalan.wordpress.com/kuliah/tokoh dan teori belajar/teori pembelajaran vygotsky/ diakses 17 Desember 2014
[10]Trianto, Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif, (Jakarta: Kencana, 2010) hal 56
[11]Miftahul Huda, Op.Cit,  hal 24
[12]Agus Suprijono, Cooperative Learning (Teori, Aplikasi dan Paikem), (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009) hal 39
[13]Melvin L. Silberman. Aktive Learning 101 Cara Belajar Siswa Aktif. (Bandung: Nusamedia, 2013) hal 180
[14]Abdul Majid, Op. Cit, hal 189
[15]Trianto, Op. Cit, hal 78
[16]Abdul Majid, Op. Cit
[17]Trianto, Op.cithal 82.
[18]Kokom Komalasari, Pembelajaran Kontekstual (Konsep dan Aplikasi), (Bandung:Revika Aditama, 2010), hal 62
[19]Agus Suprijono. Op.Cit. hal 92
[20]Syaiful Bahri Djamarah, Op.Cit. hal 405
[21]Trianto, Op.Cit, hal 81
[22]Miftahul Huda, Op.Cit, hal 132
[23]Melvin L. Silberman, Op.Cit, hal 256
[25] Soeharso, dkk, Kamus Bahasa Indonesia Lengkap, (Semarang: Widya Karya, 2011), hal 512
[26] Melvin L. Silberman, Op.Cit, hal 256 - 257
[28]Purwanto. Evaluasi Hasil Belajar, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009)hal 44.
[29]Taman Firdaus, Op. cit, hal 82
[30]Agus suprijono. Op. cit. hal 6
[31]Rusman, Model-model Pembelajaran Mengembangkan Profesionalisme Guru. (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2012) hal125
[32]Purwanto, Op. cit. hal 46
[33]Azizah Arkarna, Dunia Fiqih, http://dunia-fiqih.blogspot.com/2011/11/pengertian-fiqih-dan-ushul-fiqih.html diakses 8 Desember 2014.
[34]Burhanudin, Fiqih Ibadah. (Bandung: CV Pustaka Setia, 2001)hal12
[35]Imam Zarkasi, Pelajaran Fiqih 1 Syahadat, Thaharah, dan Shalat, (Ponorogo:Trimurti, 1995)  hal 1
[36] Anis Tanwir Hadi, Pengantar Fikih 3 untuk kelas III Madrasah Ibtidaiyah, (Surakarta: PT Tiga Serangkai Pustaka Mandiri, 2008) hal V
[37] Varossita, Telaah Kurikulum Fiqh Madrasah Ibtidaiyah http://varossita.blogspot.com/2010/10/telaah-kurikulum-fiqh-madrasah.html diakses 20 Desember 2014
[38]Ibid
[41]E. Mulyasa, Praktik Penelitian Tindakan Kelas, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2011) hal 63


BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A.    Pendekatan Penelitian dan Desain Penelitian
1.      Pendekatan Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research). Penelitian Tindakan Kelas (PTK) adalah suatu pencermatan terhadap kegiatan belajar berupa sebuah tindakan yang sengaja dimunculkan dan terjadi dalam sebuah kelas secara bersama.[1]Action Research yaitu kegiatan penelitian untuk mendapatkan kebenaran dan manfaat praktis dengan cara melakukan tindakan secara kolaboratif dan partisipasif.[2]
Penelitian dengan menggunakan pendekatan Classroom Action Reseach yaitu kegiatan penelitian untuk mendapatkan kebenaran dari suatu tindakan yang dilakukan dalam sebuah kelas secara bersama. Sedangkan tindakan dalam penelitian ini adalah penelitian dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Crossword Puzzle di kelas III MIMiftahul Ulum Braja Selebah untuk meningatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran fiqih materi pokok puasa Ramadan.
2.      Desain Penelitian
Desain penelitian dalam penelitian ini menggunakan siklus yang dapat digambarkan sebagai berikut :
     28

 

    Alur pelaksanaan tindakan kelas
  Perencanaan
     SIKLUS I
 Pengamatan
 Perencanaan
Pelaksanaan
  Refleksi
    SIKLUS II
 Pengamatan
Pelaksanaan
  Refleksi
?
 









                        Gambar 2 : Desain adaptasi Kemmis dan MC Taggart
Pelaksanaan penelitian pembelajaran ini dilaksanakan dalam dua  siklus, setiap siklus masing-masing dua kali pertemuan dengan setiap pertemuan masing-masing 2 jam pelajaran.
a.    Siklus I
Pada siklus ini, setiap pertemuan terbagi menjadi 4 langkah penelitian tindakan kelas yaitu perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi.
1)        Perencanaan
Peneliti bersama-sama dengan guru merencanakan tindakan. Tindakan ini bersifat kolaboratif,  peneliti bertindak sebagai pelaksana tindakan dan guru  bertindak sebagai observator. Pada tahap ini peneliti menentukan fokus permasalahan yang akan diamati, kemudian peneliti merekam fakta yang terjadi selama tindakan berlangsung. Adapun rinciannya sebagai berikut:
(a)      Peneliti membuat kesepakatan bersama guru  untuk menetapkan materi pokok.
(b)     Menentukan hari dan tanggal melakukan penelitian.
(c)      Membuat semua perangkat pembelajaran yang diperlukan, seperti RPP serta pokok bahasan yang akan disampaikan.
(d)     Menyiapkan lembar kegiatan siswa (LKS)
(e)      Peneliti membuat LKS berdasarkan materi dan tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Lembar kegiatan siswa ini akan dikerjakan secara kelompok.
(f)      Persiapan lembar observasi pembelajaran untuk setiap pembelajaran Fiqih.
(g)     Persiapan soal tes yang akan diberikan pada awal penelitian dan setiap siklus.
(h)     Membagi siswa dalam kelompok.
Peneliti membagi siswa dalam Kelompok berdasarkan nilai siswa. Kelompok siswa terdiri dari kelompok heterogen yaitu siswa berkemampuan tinggi, sedang dan rendah. Siswa yang memiliki nilai yang tinggi dipasangkan dengan siswa yang memiliki nilai rendah. Nilai diperoleh dari data nilai uji blok materi sebelumnya.


2)      Pelaksanaan
Pelaksanakan isi dan rancangan  yang telah dibuat oleh peneliti sebelumnya dan dikonsultasikan dengan  guru fiqih. Penelitian ini dilaksanakan dengan 2 siklus. Pada siklus I  pertemuan I rencana pelaksanaan pembelajarana dalah sebagai berikut:
a)      Kegiatan awal
(1)        Siswa bersama guru berdoa sebelum memulai pelajaran.
(2)        Siswa menyiapkan buku mata pelajaran Fiqih.
(3)        Siswa diberi motivasi dalam mengikuti materi pembelajaran.
(4)        Apersepsi/menghubungkan materi yang sekarang dengan materi sebelumnya yaitu tentang puasa Ramadan.
b)      Kegiatan inti
(1)     Guru memberikan materi tentang pengertian puasa, syarat wajib puasa, dan rukun puasa. (eksplorasi)
(2)     Guru membagi kelas menjadi beberapa kelompok kecil menjadi 16 kelompok yang terdiri dari 2 siswa perkelompoknya. Siswa yang mendapat nilai tinggi berpasangan dengan siswa yang mendapat nilai rendah. (eksplorasi)
(3)     Siswa diberi kertas yang berisi soal teka-teki silang untuk dijawab bersama dengan kelompoknya yang diberi waktu 15 menit untuk menjawab.(eksplorasi dan elaborasi)
(4)     Guru membahas jawaban teka-teki silang bersama dengan siswa. (elaborasi)
(5)     Guru memberikan reward berupa hadiah maupun pujian kepada kelompok yang paling banyak mengisi kotak teka-teki silang dengan benar.
(6)     Guru memberikan kesimpulan dan memberi waktu kepada siswa untuk bertanya. (konfirmasi)
c)      Penutup
(1)     Siswa bersama guru melakukan evaluasi terhadap materi yang telah dipelajari.
(2)     Siswa diberi informasi bahwa pertemuan selanjutnya akan membahas tentang hal-hal yang membatalkan puasa dan  orang yang boleh meninggalkan puasa, dan dilaksanakan post tes.
(3)     Siswa membaca doa sebelum mengakhiri pelajaran.
Pada pertemuan 2, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) adalah sebagai berikut:
a)      Kegiatan awal
(1)     Siswa bersama guru berdoa sebelum memulai pelajaran.
(2)     Siswa menyiapkan buku mata pelajaran fiqih.
(3)     Siswa diberi motivasi dalam mengikuti materi pembelajaran.
(4)     Apersepsi/menghubungkan materi yang  sekarang dengan materi sebelumnya yaitu tentang hal-hal yang  membatalkan puasa dan orang yang boleh meninggalkan puasa.
b)      Kegiatan inti
(1)     Guru memberikan materi tentang hal-hal yang membatalkan puasa dan orang yang boleh meninggalkan puasa. (eksploras)
(2)     Guru membagi kelas menjadi beberapa kelompok kecil menjadi 16 kelompok yang terdiri dari 2 siswa perkelompoknya. Siswa yang mendapat nilai tinggi berpasangan dengan siswa yang mendapat nilai rendah. (eksplorasi)
(3)     Siswa diberi kertas yang berisi soal teka-teki silang untuk dijawab bersama dengan kelompoknya yang diberi waktu 15 menit untuk menjawab. (eksplorasi dan elaborasi)
(4)     Guru membahas jawaban teka-teki silang bersama dengan siswa. (elaborasi)
(5)     Guru memberikan reward berupa hadiah maupun pujian kepada kelompok yang paling banyak mengisi kotak teka-teki  silang dengan benar.
(6)     Guru memberikan kesimpulan dan memberi waktu kepada siswa untuk bertanya. (konfirmasi)


c)      Penutup
(1)     Siswa bersama guru melakukan evaluasi terhadap materi yang telah dipelajari.
(2)     Guru memberikan post-test.
(3)     Siswa membaca doa sebelum mengakhiri pelajaran.
3)      Observasi
Observasi atau pengamatan yang berkaitan dengan pelaksanaan yang dilakukan dengan menggunakan lembar observasi yang telah di siapkan. Pengamatan ini ditujukan untuk mengamati hasil belajar siswa pada saat pembelajaran dan setelah pembelajaran.
4)      Refleksi
Refleksi adalah kegiatan menganalisis dan membuat kesimpulan berdasarkan hasil dan tes pengamatan. Refleksi digunakan dengan menganalisis hasil observasi dan tes yang digunakan sebagai dasar untuk perbaikan siklus berikutnya.
b.        Siklus II
Proses pembelajaran pada siklus II merupakan proses perbaikan terhadap kesulitan dan kelemahan yang terjadi pada siklus I. Posedur pada siklus II sama dengan prosedur pelaksanaan pada siklus I yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi.
B.     Lokasi dan Waktu Penelitian
1.        Lokasi Penelitian
Tempat Penelitian     : MI Miftahul Ulum
Alamat                      : Braja Harjosari, Kecamatan Braja Selebah,
                          Kabupaten Lampung-Timur.
2.        Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada semester genap tahun 2014/2015.
C.    Variabel Penelitian
Variabel penelitian ini adalah variabel bebas (x) dan variabel terikat (y). Yang menjadi variabel bebas (x) adalah pembelajaran kooperatif  tipe Crossword Puzzle sedangkan variabel terikat (y) adalah hasil belajar.
D.    Definisi Operasional Variabel
1.    Crossword Puzzle (teka-teki silang)
Pembelajaran Crossword Puzzle ini merupakan variabel bebas dalam penelitian di MI Miftahul Ulum dan tehnik model pembelajaran Crossword Puzzle ini yaitu guru membagi siswa menjadi beberapa kelompok kecil kemudian setiap kelompok diberi lembar kegiatan siswa (LKS) yang berisi pertanyaan, pertanyaan itu dibagi menjadi dua bagian misal: 10 soal, 5 soal untuk soal yang mendatar dan 5 soal lagi untuk soal yang menurun,  yang sudah dibuat oleh guru dengan metode Crossword Puzzle (teka-teki silang).
Untuk pengisian dari semua pertanyaan dari soal tersebut yaitu jawaban diisi dan disusun didalam kotak-kotak yang  dibuat berbaris mendatar dan menurun, yang sesuai dengan soal yang  telah dibuat. Kemudian setiap kelompok diberi waktu 15 menit, atau yang paling cepat untuk menjawab soal-soal tersebut, setelah itu LKS dikumpul dan dikoreksi bersama-sama,  dan kelompok yang mejawab paling  banyak dengan tepat dan benar maka akan diberi reward berupa hadiah maupun skor 100 oleh guru.
Penerapan metode pembelajaran Crossword Puzzle (teka-teki silang) ini dapat meningkatkan hasil belajar fiqih karena setiap peserta memiliki tanggung jawab terhadap jawaban yang diajukan oleh guru.
2.    Hasil Belajar
Hasil belajar Fiqih merupakan variabel terikat dalam penelitian ini. Hasil belajar dalam penelitian ini merupakan prestasi belajar yang dimiliki peserta didik setelah mengikuti kegiatan belajar  khususnya pembelajaran Fiqih untuk mengetahui sebatas mana mereka memahami serta mengerti materi Fiqih tersebut. Skor atau nilai yang harus dicapai oleh peserta didik minimal adalah 70 setelah dilakukannya metode Crossword Puzzle.
E.     Subjek Penelitian
     Subjek penelitian adalah semua siswa kelas III MI Miftahul Ulum Braja Selebah dengan jumlah 32 siswa ( 19 laki-laki dan 13 perempuan).
F.     Teknik Pengumpulan Data
1.    Metode Pengumpulan Data
Adapun metode yang digunakan untuk pengumpulan data pada penelitian tindakan kelasi ini yaitu: tes dan dokumentasi.
a.    Tes
Untuk mengukur ada atau tidaknya serta besarnya kemampuan objek yang diteliti digunakan tes. Tes instrumen pengumpulan data digunakan untuk mengukur kemampuan siswa dalam aspek kognitif, atau penguasaan materi pembelajaran.[3] Sedangkan dalam penelitian ini peneliti menggunakan pre-test untuk mengukur hasil belajar Fiqih sebelum dilakukannya model pembelajaran kooperatif tipe Crossword Puzzle.
b.    Metode Dokumentasi
Dokumentasi dari kata dokumen, yang artinya barang-barang tertulis. Di dalam melaksanakan metode dokumentasi, peneliti menyelidiki benda-benda tertulis seperti buku-buku,  majalah dokumen, peraturan, notulen rapat, catatan harian dan sebagainya.[4]
Metode ini berguna untuk mendokumentasikan hal-hal yang berkaitan dengan penelitian yang berfungsi sebagai bukti fisik yang akurat. Dokumentasi adalah berupa barang-barang yang tetulis yaitu mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan, transkip nilai, buku, silabus, profil sekolah.
c.       Metode Observasi
Metode observasi adalah metode atau cara-cara menganalisis dan mengadakan pencatatan secara sistematis mengenai tingkah laku dengan melihat atau mengamati individu atau kelompok secara langsung.Cara atau metode tersebut pada umumnya ditandai oleh pengamatan tentang apa yang benar-benar dilakukan oleh individu, dan membuat pencatatan-pencatatan secara objektif mengenai apa yang diamati. Cara atau metode tersebut dapat juga dilakukan dengan menggunakan teknik dan alat-alat khusus seperti blangko-blangko, checklist, atau daftar isian yang telah dipersiapkan sebelumnya.[5]
Metode ini digunakan sebagai metode pendukung untuk memperoleh data tentang sarana fisik, struktur organisasi dan denah lokasi.
2.    Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian atau alat yang akan digunakan dalam penelitian ini meliputi :
a.    Tes
Tes digunakan untuk mengetahui tingkat kemampuan pembelajaran dengan metode pembelajaran Crossword Puzzle setelah proses pembelajaran dilaksanakan pada kelas III MI Miftahul Ulum Braja Selebah.
Penelitian ini menggunakan jenis tes individual dan kelompok. Tes individual diberikan dalam bentuk Pre-test dan Post-test. Sedangkan tes kelompok dilakukan secara bersama-sama oleh siswa selama model pembelajaran Crossword Puzzle yang diterapkan.
Pada setiap siklus guru memberikan tes untuk mengukur kemampuan siswa dalam penguasaan materi dengan menggunakan metode pemebalajaran Crossword Puzzle dalam pembelajaran. Pada saat melaksanakan tes tertulis kelas III MI Miftahul Ulum Braja Selebah Tahun Pelajaran 2014/2015 yang berjumlah 32 siswa dibagi menjadi enam belas Kelompok, masing-masing terdiri dari 2 siswa perkelompoknya. Kemudian siswa yang mendapat nilai tinggi dipasangkan dengan siswa yang mendapat nilai rendah.
b.    Non Tes
Teknik non tes yang dilakukan dalam penelitian ini adalah observasi. Observasi digunakan untuk mengetahui tentang respon dan sikap siswa terhadap pemahaman pembelajaran sub materi terhadap puasa Ramadan dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif  tipe Crossword Puzzle.
3.    Uji Validitas dan Reliabilitas Instrumen Penelitian
Agar data dalam penelitian dapat dikatakan valid, maka perlu adanya uji keabsahan data, adapun uji keabsahan data dilakukan dengan uji validitas dan uji reliabilitas.
Menurut Azwar Validitas berasal dari kata validity yang mempunyai arti sejauh mana ketepatan dan kecermatan suatu alat ukur dalam melakukan fungsi ukurnya. Sisi lain dari pengertian validitas adalah aspek kecermatan pengukuran. Suatu alat ukur yang valid tidak hanya mampu menghasilkan data yang tepat akan tetapi juga harus memberikan gambaran yang cermat mengenai data tersebut.[6]
Validitas merupakan syarat yang terpenting dalam suatu alat evaluasi.[7] Agar data dalam penelitian ini dapat dikatakan valid, maka perlu adanya uji keabsahan data, adapun uji keabsahan data dilakukan dengan uji validitas dan uji reliabilitas. Uji validitas bisa dilakukan dengan  uji validitas isi. Sebuah tes dikatakan memiliki validitas isi apabila mengukur tujuan khusus tertentu yang sejajar dengan materi atau isi pelajaran yang diberikan. Oleh karena meteri yang diajarkan tertera dalam kurikulum.[8]
Berikut merupakan prosedur yang dapat digunakan, antara lain:
a.         Mendefiniskan domain yang hendak diukur. Domain yang hendak diukur dalam penelitian ini adalah hasil belajar siswa pada mata pelajaran fiqih setelah digunakannya metode Crossword Puzzle.
b.         Menentukan domain yang akan diukur oleh masing-masing soal. Setiap soal memiliki indikator yang sesuai dengan materi yang diajarkan. Tabel dibawah ini adalah keabsahan data yang dilakukan dengan uji validitas isi yakni sebagai berikut:
    Tabel 3.1
 Perbandingan Indikator yang diukur dengan Soal
Indikator
Soal  Crossword Puzzle no.
-     Memahami pengertian puasa Ramadan, dan mampu menyebutkan syarat wajib puasa.
1, 2,3,4,5,6,7,8,11,
12,13(terlampir)
-     Mengetahui rukun puasa.
9, 14,11 (terlampir)
-     Menyebutkan hal-hal yang membatalkan puasa.
10,1,2,15(terlampir)
-       Mengetahui orang yang boleh meninggalkan puasa.
3, 4, 14 (terlampir)
-       Mengetahui niat puasa dan doa buka puasa.
8,15 (terlampir)
-       Melaksanakan puasa Ramadan dengan baik dan benar.
5,6, 12 (terlampir)
-       Mengetahui hal-hal yang dapat  mengurangi pahala puasa.
7, 9 (terlampir)
-       Mengetahui manfaat atau faedah puasa.
10, 13 (terlampir)
c. Membandingkan masing-masing soal dengan domain yang sudah ditetapkan.
Penelitian ini menggunakan tes dengan butir soal 10, kemudian soal tersebut disesuaikan dengan kurikulum dan indikator keberhasilan mata pelajaran Fiqih yang digunakan. Tes yang dibuat sudah diperiksa oleh guru mata pelajaran Fiqih yang bersangkutan dan sudah diuji validitas isinya.
Item instrumen yang valid sudah tentu reliabel. Namun reliabilitas instrumen yang sudah diketahui harus terlebih dahulu diuji secara empiris, agar diketahui besarnya koefisien reliabilitas.
Reliabilitas berasal dari kata rely yang artinya percaya dan reliable  yang artinya dapat dipercaya.  Keterpercayaan berhubungan dengan ketetapan dan konsistensi. Tes hasil belajar dikatakan dapat dipercaya apabila memberikan hasil pengukuran hasil belajar yang relative  tetap secara konsisten.[9]
Reliabilitas diartikan dengan keajekan (konsistensi) bila mana tes tersebut diuji berkali-kali hasilnya relatif sama, artinya setelah hasil tes yang pertama dengan tes yang berikutnya dikorelasikan terdapat hasil korelasi yang signifikan.
G.    Tehnik Analisa Data
 Penelitian ini akan dianalisis menggunakan analisis kualitatif dan kuantitatif. Analisis data kualitatif digunakan untuk menetukan peningkatan proses belajar khususnya tindakan yang dilakukan oleh peneliti yaitu dengan menggunakan metode pembelajara Crossword Puzzle. Sedangkan analisis data kuantitatif digunakan untuk menentukan peningkatan hasil belajar siswa sebagai pengaruh dari setiap tindakan yang dilakukan oleh peneliti.
Rumus yang digunakan untuk mencari rata-rata hasil belajar siswa adalah:
P =  x 100 %                                   
             Keterangan:
P   = Presentase
  F   = Frekuensi
N   = Jumlah yang dipersoalkan[10]
H.    Indikator Keberhasilan Tindakan
Indikator keberhasilan tindakan dalam penelitian ini adalah adanya peningkatan hasil belajar siswa sesudah diberikan metode pembelajaran Crossword Puzzle dengan siklus I dan siklus II. Tindakan dikatakan berhasil apabila siswa memperoleh nilai kriteria ketuntasan minimal 70, dan siswa yang mencapai KKM minimal 75% dari seluruh siswa.


[1]Suharsimi Arikunto dkk, Penelitian Tindakan Kelas, (Jakarta: Bumi Aksara, 2009) hal 3
[2]E. Mulyana, menjadi Guru Pofesional (Bandung : PT Rosdakarya, 2009) hal 152
[3]Wina Sanjaya, Penelitian Tindakan kelas, (Jakarta: Kencana, 2009), hal 99
[4]Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian, (Jakarta: Rineka Cipta, 2010), hal 201.
[5]Ngalim Purwanto, Prinsip-Prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran. (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2010) hal: 149.
[6]Merlita Futriana, Uji Validitas dan Reliabilitas Instrumen Penelitian http://merlitafutriana0.blogspot.com/p/validitasdanreliabilitas.html?showComment=1419561517391 diakses 26 
Desember 2014
[7]M. Ngalim Purwanto, Prinsip Prinsip Dan Teknik Evaluasi Pengajran, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2012) hal 137
[8]Suharsimi Arikunto, Dasar Dasar Evaluasi Pendidikan, (Bandung: Bumi Aksara,                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                       2008) hal 82
[9]Purwanto, Evaluasi Hasil Belajar, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2013) Hal 153
[10]Hasrun Usman, Metodologi Penelitian, (Jakarta, 1979), hal 9

Tidak ada komentar:

Posting Komentar