PENERAPAN MODELPEMBELAJARANKOOPERATIFTIPECROSSWORD PUZZLE UNTUK MENINGKATKAN
HASIL BELAJAR MATA PELAJARAN FIQIH MATERI POKOK PUASA RAMADAN SISWA KELAS III
MI MIFTAHUL ULUM BRAJA SELEBAH
TAHUN PELAJARAN 2014/2015
SKRIPSI
Diajukan sebagai salah satu syarat
Untuk memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan
Agama Islam (S.Pd.I)
STAI Darussalam Lampung
OLEH :
VIVI RAHMAWATI
NPM : 01193 715 1073
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM (STAI)
DARUSSALAM LAMPUNG
2015
PENERAPAN
MODELPEMBELAJARANKOOPERATIFTIPECROSSWORD PUZZLE UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATA
PELAJARAN FIQIH MATERI POKOK PUASA RAMADAN SISWA KELAS III MI MIFTAHUL ULUM
BRAJA SELEBAH
TAHUN PELAJARAN 2014/2015
SKRIPSI
OLEH :
VIVI RAHMAWATI
NPM : 01193 715 1073
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM (STAI)
DARUSSALAM LAMPUNG
2015
ABSTRAK
Vivi Rahmawati, 01193 715 1073, Penerapan
Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Crossword Puzzle Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa pada Mata Pelajaran Fiqih Materi Pokok Puasa Ramadan Siswa Kelas III MI Miftahul Ulum
Braja Selebah Tahun Pelajaran 2014/2015, Skripsi, Way Jepara, Progam Studi Pendidikan Agama Islam, Jurusan
Tarbiyah, Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Darussalam Lampung, Way Jepara, Mei
2015.
Penelitian
Tindakan Kelas (PTK) ini dilatarbelakangi oleh rendahnya hasil belajar pada
mata pelajaran fiqih kelas III di MI Miftahul Ulum Braja Selebah yang dilihat
dari 32 siswa hanya 6 siswa atau 18,75% siswa yang telah tuntas belajar.
Rendahnya hasil belajar di MI Miftahul Ulum disebabkan karena model
pembelajaran yang digunakan oleh guru masih kurang menarik siswa dan masih
monoton.
Penelitian ini
bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar Fiqih pada siswa kelas III MI Miftahul Ulum Braja Selebah melalui penerapan
model Pembelajaran Kooperatif tipe Crossword
Puzzle. Variabel terikat (X) dalam penelitian ini adalah Hasil Belajar
Siswa, sedangkan variabel bebasnya (Y) adalah Metode Kooperatif Tipe Crossword Puzzle.
Jenis
penelitian yang dilakukan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus, masing-masing
siklus dua kali pertemuan. Subyek
penelitian peserta didik di MI Miftahul Ulum pada kelas III dengan jumlah 32
peserta didik. Tehnik pengumpulan data menggunakan tes dan dokumentasi.
Analisis data yang digunakan adalah analisis kualitatif dan analisis
kuantitatif. Analilis data dilakukan sejak pertemuan pra siklus dan setelah
pemberian tindakan pada masing-masing siklus yang telah dilakukan.
Berdasarkan hasil
penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa metode pembelajaran koopertaif tipe
Crossword Puzzle dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas III pada
mata pelajaran Fiqih di MI Miftahul Ulum. Ini terbukti dengan adanya
peningkatan hasil belajar dengan rata-rata 68,12 dari 32 siswa 16 yang tuntas atau
50% pada siklus I menjadi 76,09 hasil belajar rata-rata dari 32 siswa yang
tuntas 25 siswa pada siklus II, dengan presentase peningkatan hasil belajar
yaitu 78,12% dari jumlah siswa.
Hal ini menunjukkan
bahwa dengan menerapkan metode pembelajaran kooperatif tipe Crossword Puzzle
dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Hasil penelitian sebagaimana yang
dikemukakan di atas menunnjukan bahwa pembelajaran dengan menerapkan metode
kooperatif tipe Crossword Puzzle dapat meningkatkan hassil belajar siswa
pada mata pelajaran fiqih siswa kelas III MI Miftahul Ulum Braja Selebah.
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Menurut Etimologi (Bahasa), fiqih adalah
Al-Fahmu (faham). Menurut terminologi, fiqih pada mulanya berarti
pengetahuan keagamaan yang mencakup seluruh ajaran agama, baik berupa akidah,
akhlak, maupun alamiah (ibadah), yakni sama dengan arti Syari’ah Islamiyah. Fiqih diartikan sebagai bagian dari syariah
Islamiyah, yaitu pengetahuan tentang hukum syariah Islamiyah yang berkaitan
dengan perbuatan manusia yang telah dewasa dan berakal sehat yang diambil dari
dalil-dalil yang terperinci.[1]
Fiqih adalah pengetahuan tentang hukum segala
sesuatu menurut ajaran agama islam. Baik yang mengenai cara beribadah yang
khusus, seperti mengenai cara mengerjakan sholat, cara berpuasa dan lain
sebagainya. Ataupun yang mengenai cara bermasyarakat (pergaulan) antara sesama
makhluk seperti cara pinjam-meminjam, cara berkeluarga dan lain sebagainya.[2]
Pelajaran fikih untuk madrasah Ibtidaiyah adalah dalam rangka ikut
mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta
didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Allah swt.,
berakhlak mulia, sehat berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga
negara yang demokratis serta bertanggung jawab.[3] Berdasarkan pendapat di atas maka dapat disimpulkan bahwa pelajaran fikih untuk madrasah ibtidaiyah adalah
pengetahuan keagamaan tentang nilai dan hukum Islam baik secara terperinci
maupun menyeluruh yang bertujuan untuk
membimbing siswa agar dapat menjadi muslim yang memiliki kepribadian sesuai
dengan syariat Islam.
Sesuai dengan tujuan fiqih di
atas, maka pelajaran fiqih perlu mendapat perhatian yang
lebih baik lagi. Pembelajaran fiqih di sekolah diharapkan menjadi suatu
kegiatan yang menyenangkan bagi siswa serta siswa dapat memahami materi secara
keseluruhan dan mampu mencapai nilai di atas Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM).
Namun pada kenyataannya berdasarkan pra survey yang dilakukan di MI Miftahul Ulum Braja Selebah masih banyak siswa yang merasa bosan dan Siswa cenderung melakukan
aktifitas lain yang lebih menarik perhatian siswa, misalnya mengobrol dengan
temannya, pada saat pembelajaran fiqih berlangsung. Karena metode yang
digunakan guru masih monoton.
Kondisi tersebut kurang terpantau oleh guru, karena guru hanya
menerangkan materi pelajaran dengan berceramah. Selain itu, dari data hasil
ulangan siswa pada mata pelajaran fiqih di MI Miftahul Ulum Braja Selebah menunjukan hasil belajar di bawah rata-rata yaitu 52,19, belum mencapai Kriteria
Ketuntasan Minimal (KKM=70) . Hal itu dapat dilihat tabel berikut:[4]
Tabel 1.1
Nilai Pre-test Siswa Kelas III pada Mata
Pelajaran Fiqih
Materi Pokok
Puasa Ramadan di MI Miftahul Ulum Braja Selebah Tahun Pelajaran
2014/2015
|
No
|
Nama
|
Jenis Kelamin
|
Nilai
|
|
1
|
Adi Arif Munandar
|
L
|
35
|
|
2
|
Adi Sahrul Wafa
|
L
|
55
|
|
3
|
Ahmad Zakiy
Nurrafiq
|
L
|
75
|
|
4
|
Anni Zulfaturrohmah
|
P
|
40
|
|
5
|
Ayasha Timur Suminar Jiwatama
|
L
|
50
|
|
6
|
Diky Cahya Mukti
|
L
|
40
|
|
7
|
Ervina Dwi Ardianti
|
P
|
40
|
|
8
|
Fahrur Roziq Mukharor
|
L
|
70
|
|
9
|
Fani Adelia Senja
|
P
|
35
|
|
10
|
Ghin Farikhah Zakiyah
|
P
|
45
|
|
11
|
Helmy Mustafa
|
L
|
65
|
|
12
|
Kailila Revi Asyava
|
P
|
50
|
|
13
|
M. Wildanum Mukholadun
|
L
|
55
|
|
14
|
M. Zidan Assidiqy
|
L
|
60
|
|
15
|
Meylan Anjani Adi Yansa
|
P
|
50
|
|
16
|
Mohamad Mulla Faqih Sanggala
|
L
|
70
|
|
17
|
Muhammad Kafa Bihi
|
L
|
60
|
|
18
|
Muhammad Khoirul Anam
|
L
|
40
|
|
19
|
Muhammad Musyafa' Al-Baihaqi
|
L
|
50
|
|
20
|
Niko Hayu Sunarto
|
L
|
55
|
|
21
|
Ranjesa Rizka Sutrisno
|
P
|
55
|
|
22
|
Risya Lutfiana
|
P
|
50
|
|
23
|
Rizki Aditia Pratama
|
L
|
50
|
|
24
|
Rizky Fajar Firdaus
|
L
|
75
|
|
25
|
Sah Halal Azami
|
L
|
85
|
|
26
|
Salwa Nur Azizah
|
P
|
30
|
|
27
|
Sintya Wulandari
|
P
|
50
|
|
28
|
Siti Muntamah
|
P
|
50
|
|
29
|
Suci Permata Sari
|
P
|
55
|
|
30
|
Tantri Febriana
|
P
|
30
|
|
31
|
Wahyu Cahya Firdaus
|
L
|
30
|
|
32
|
Zainur Rosadi
|
L
|
70
|
Keterangan: prasurvey di MI Miftahul Ulum Braja
Selebah kelas III tanggal 31 Maret 2015 dengan membagi angket soal.
Tabel
1.2
Presentase
Nilai siwa kelas III pada Mata Pelajaran Fiqih
|
No
|
Nilai Prestasi
Belajar
|
KKM
|
Frekuensi (n)
|
Presentasi (%)
|
|
1
|
90 – 100
|
70
|
0
|
0 %
|
|
2
|
70 – 89
|
6
|
18,75 %
|
|
|
3
|
60 - 69
|
3
|
9,37%
|
|
|
4
|
50 – 59
|
13
|
40,62 %
|
|
|
5
|
00 – 49
|
10
|
31,25%
|
|
|
Jumlah
|
32
|
100%
|
||
Dari tabel
di atas dapat diketahui dari 32 siswa hanya 6 siswa (18,75%) yang telah tuntas belajar, dan yang belum tuntas sebanyak 26 siswa (81.25%). Karena rendahnya hasil belajar siswa dalam pembelajaran
ini, diperlukan suatu model pembelajaran
yang tepat, menarik, inovatif, kreatif, dan harus efektif sehingga siswa dapat
aktif dalam kegiatan pembelajaran dan dapat menghasilkan apa yang harus
dikuasai siswa setelah proses pembelajaran berlangsung. Oleh karena itu, salah satu usaha untuk
menumbuhkan dan meningkatkan hasil belajar peserta didik adalah dengan
menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Crossword Puzzle.
Pembelajaran
kooperatif mewadahi bagaimana
peserta didik dapat bekerja sama dalam kelompok, tujuan kelompok adalah tujuan
bersama. Konsekuensi positif
dari pembelajaran ini adalah siswa diberi kebebasan untuk terlibat secara aktif
dalam kelompok mereka. Dalam lingkungan pembelajaran kooperatif, siswa harus
menjadi partisipan aktif dan melalui kelompoknya, dapat membangun komunitas
pembelajaran (learning comunity) yang
saling membantu antar satu sama lain.[5]
Crossword Puzzle
adalah
menyusun tes peninjauan kembali dalam bentuk teka-teki silang akan mengundang
minat dan partisipasi siswa. Teka-teki silang bisa diisi perseorangan atau
kelompok.[6] Teknik ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk saling membagikan
ide-ide dan mempertimbangkan jawaban yang paling tepat. Selain itu juga
mendorong siswa untuk meningkatkan semangat kerja sama mereka[7].
Melalui model pembelajaran kooperatif tipe Crossword Puzzle
guru dapat membantu peserta didik mendapatkan informasi, ide, keterangan, cara
berfikir dan mengekspresikan ide karena model pembelajaran berfungsi
pula sebagai pedoman bagi para perancang pembelajaran dan para guru dalam
merencanakan aktivitas belajar mengajar.[8]
Jadi, sebagai pengajar perlu menerapkan model pembelajaran yang dapat membantu
siswa untuk memahami materi ajar supaya hasil belajar yang diperoleh lebih
meningkat.
B.
Identifikasi
Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka masalah yang diteliti dalam penelitian tindakan kelas (PTK) ini
dapat diidentifikasikan sebagai berikut:
1.
Rendahnya
hasil belajar siswa dalam mata pelajaran Fiqih.
2.
Metode
yang digunakan oleh guru dalam pembelajaran Fiqih masih monoton.
3.
Ketuntasan hasil belajar fiqih kelas III MI
Miftahul Ulum sebelumnya baru mencapai 18,75 %.
C.
Pembatasan Masalah
Untuk menghindari meluasnya pembahasan maka penulis membatasi pada
masalah “Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Crossword Puzzle untuk Meningkatkan Hasil
Belajar Siswa pada Mata Pelajaran
Fiqih Siswa Kelas III MI Miftahul Ulum Braja Selebah Tahun Pelajaran 2014/2015”
D.
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah di atas maka
peneliti dapat merumuskan masalahnya yaitu: Apakah dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Crossword Puzzle dapat meningkatkan hasil belajar
siswa pada mata pelajaran fiqih di MI Miftahul Ulum
Braja Selebah Tahun Ajaran 2014/2015?
E.
Tujuan
Penelitian
Sesuai dengan permasalahan di atas, penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar Fiqih pada siswa kelas III MI
Miftahul Ulum Braja Selebah
melalui penerapan
model pembelajaran kooperatif tipe Crossword
Puzzle.
F.
Manfaat
Penelitian
Dari hasil penelitian ini dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Crossword
Puzzle diharapkan dapat berguna sebagai berikut :
1.
Manfaat Teoritik Akademik
Dapat menambah pemahaman terhadap pendekatan teori pada penerapan model pembelajaran kooperatif
tipe Crossword Puzzle.
2.
Manfaat Praktis
a.
Bagi guru
MI akan menciptakan model pembelajaran yang bermakna sehingga diminati oleh
peserta didik serta mendapat wawasan dalam keterampilan pembelajaran yang dapat
digunakan dalam proses belajar mengajar.
b.
Bagi siswa
akan memperoleh pelajaran fiqih yang lebih menarik serta dapat meningkatkan motivasi peserta didik
dengan di terapkannya model pembelajaran kooperatif tipe Crossword Puzzle sehingga peserta didik akan merasakan pentingnya
belajar fiqih.
c. Bagi
peneliti sebagai calon guru hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai
pertimbangan jika menggunakan metode
pembelajaran untuk melakukan inovasi-inovasi dalam Pembelajaran. Dan juga dapat menambah pengalaman dan ilmu pengetahuan dengan adanya
pembelajaran cooperative khususnya tipe Crossword
Puzzle.
[1] Rachmat Syafe’i, Fiqih Muamalah, (Bandung: CV Pustaka Setia,2001)
hal 13-14
[3]Anis Tanwir Hadi, Pengantar Fikih 3 untuk kelas III Madrasah
Ibtidaiyah, (Surakarta: PT Tiga Serangkai Pustaka Mandiri, 2008) hal V
[5]Miftahul
Huda, Cooperative Learning (Metode,
Teknik, struktur dan model penerapan). (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2011 ) hal 33
[6] Melvin L. Silberman, Aktive Learning 101 Cara Belajar Siswa Aktif.(Bandung: Nusamedia,
2013) hal 256
[7]
Syaiful Bahri Djamarah, Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif, (Jakarta:
Rineka Cipta, 2010) hal 405
[8] Agus
Suprijono, Cooperative Learning (Teori
dan aplikasi PAIKEM), (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009) hal 46
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A.
Landasan Teori
1.
Pembelajaran Kooperatif
a. Pengertian
Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran yang
mengutamakan kerja sama untuk mencapai tujuan pembelajaran. Pembelajaran
kooperatif (cooperative learning)
merupakan bentuk pembelajaran dengan cara siswa belajar dan bekerja dalam
kelompok-kelompok kecil secara kolaboratif, yang anggotanya terdiri dari 4
sampai dengan 6 orang, dengan struktur kelompok heterogen.[1]
Pada prinsipnya,
cooperative learning merupakan suatu
pembelajaran yang mengedepankan kerjasama dalam menyelesaikan tugas-tugas
terstruktur.Samsul menyatakan bahwa dalam kegiatan kooperatif terjadi
pencapaian tujuan secara bersama-sama yang sifatnya merata dan menguntungkan
setiap anggota kelompoknya.[2]Pembelajaran
kooperatif merupakan model pembelajaran dengan menggunakan sistem
pengelompokan/tim kecil, yaitu antara
empat sampai enam orang yang mempunyai
latar belakang kemampuan akademik, jenis kelamin, ras, atau suku yang bebeda.[3]
Berdasarkan
beberapa pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa
Pembelajaran Kooperatif merupakan pembelajaran dalam kelompok kecil, dimana peserta didik
saling membantu memahami materi pelajaran, menyelesaikan tugas atau kegiatan
lain agar semua peserta didik dalam kelompok memperoleh hasil belajar yang
tinggi demi mencapai tujuan bersama.
b. Teori yang mendasari Pembelajaran
Kooperatif
Pembelajaran kooperatif sudah
banyak tertanam dalam teori-teori masa kini. Teori tersebut umumnya menampilkan
suatu perspektif tertentu yang dalam pembelajaran kooperatif telah menjadi
paradigma tersendiri.[4]
Beberapa perspektif teoritis diantaranya:
1)
Teori Motivasional
Perspektif motivasional berasumsi
bahwa usaha-usaha kooperatif haruslah didasarkan pada penghargaan kelompok (group
reward) dan struktur tujuan (goal struktur).[5]
Teori motivasi dalam pembelajaran kooperatif menekankan pada derajat perubahan
tujuan kooperatif mengubah insentif bagi siswa untuk melakukan tugas-tugas
akademik.[6]
Berdasarkan teori
motivasi tentu dapatmenjadikan
anggota kelompok agar termotivasi untuk
saling membantu
serta mendorong teman-temannya untukberusaha maksimal demi mencapai tujuan mereka bersama-sama.
Teori motivasi sangat erat kaitannya dengan
pembelajaran kooperatif yaitu dengan adanya
motivasi diantara setiap anggota kelompok maka mereka akan saling memberikan pendapat masing-masing serta saling mendukung
untuk menyelesaikan tugas kelompok dalam pembelajaran kooperatif yang
diterapkan. Dengan demikian
teori motivasional juga bertujuan untuk mendorong siswa agar sukses/berhasil bersama dengan anggota kelompoknya
untuk satu tujuan yang nantinya juga bisa dirasakan bersama-sama.
2)
Teori Kognitif
Pandangan teori belajar ini
dikemukakan oleh Jean Piaget dan Lev Vygotsky. Menurut Piaget ketika individu
bekerja bersama, konflik sosiokognitif terjadi dan menciptakan
ketidakseimbangan yang menstimulus pandangan, mengangkat kemampuan dan
pemikiran. Teori Vygotsky menyajikan pengetahuan sebagai produk sosial.[7]Teori
perkembangan Piaget mewakili konstruktivisme yang memandang perkembangan
kognitif sebagai suatu proses di mana anak secara aktif membangun sistem makna
dan pemahaman realitas melalui pengalaman-pengalaman dan interaksi-interaksi
mereka.[8]
Vygotsky juga yakin bahwa
pembelajaran terjadi saat siswa bekerja menangani tugas-tugas yang belum
dipelajari namun tugas-tugas tersebut masih dalam jangkauan kemampuannya atau
tugas-tugas itu berada dalam zona of proximal development mereka. Zona
of proximal developmentadalah daerah antar tingkat perkembangan
sesungguhnya yang didefinisikan sebagai kemampuan memecahkan masalah secara
mandiri dan tingkat perkembangan potensial yang didefinisikan sebagai kemampuan
pemecahan masalah di bawah bimbingan orang dewasa atau teman sebaya yang lebih
mampu.[9]
Dari beberapa
pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa teori kognitif dalam penerapannya
pada pembelajaran kooperatif yaitu karena siswa akan saling memunculkan
pemahaman masing-masing yang nyata dalam kehidupan mereka, sehingga para siswa
akan saling berinteraksi untuk menyatukan pendapat yang berbeda dengan
bekerjasama untuk mencapai hasil belajar yang lebih baik.
3)
Teori
Belajar Konstruktivisme
Pembelajaran
kooperatif bernaung dalam teori konstruktivisme. Pembelajaran ini muncul dari
konsep bahwa siswa akan lebih mudah menemukan dan memahami konsep yang sulit
jika mereka saling berdiskusi dengan temannya.[10]Menurut
Vygotsky, dalam pandangan konstruktivis sosial, mental siswa pertama kali
berkembang pada level interpersonal dimana mereka belajar menginternalisasikan
dan menstranformasikan interaksi interpersonal mereka dengan orang lain, lalu
pada level intra-personal dimana mereka mulai memperoleh pemahaman dan
keterampilan baru dari hasil interaksi ini.[11]
Secara
sosiologis, pembelajaran konstruktivisme menekankan pentingnya lingkungan
sosial dalam belajar dengan menyatakan bahwa integrasi kemampuan dalam belajar
kolaboratif dan kooperatif akan dapat meningkatkan pengubahan secara
konseptual. Keterlibatan dengan orang lain membuka kesempatan bagi peserta didik
untuk mengevaluasi dan memperbaiki pemahaman mereka saat mereka bertemu dengan
pemikiran orang lain dan saat mereka berpartisipasi dalam pencarian pemahaman
bersama.[12]
Teori konstruktivisme adalah suatu teori yang menekankan pentingnya lingkungan
sosial dalam belajar dengan menyatakan bahwa gabungan dari masing-masing kemampuan dalam pembelajaran kooperatif akan dapat meningkatkan
pemahaman
bersama.
Penerapan teori konstruktivisme terhadap pembelajaran kooperatif
adalahsuatu proses belajar mengajar interaksi sosial yang dapat memberikan pengalaman serta ide dan pemikiranpada peserta didik. Dengan
berinteraksi, mereka dapat
memahami masalah dengan lebih baik daripada sebelumnya dan hal ini tentu saja
akan berpengaruh terhadap gaya belajar
mereka sendiri dan juga berpengaruh kepada hasil belajar mereka.
c. Tipe-tipe pembelajaran kooperatif
Model pembelajaran
kooperatif yang didalamnya terdapat
banyak variasi atau tipe dari
model tersebut. Setidaknya terdapat lima pendekatan yang
seharusnya merupakan bagian dari kumpulan strategi guru dalam menerapkan model
pembelajaran kooperatif diantarannya yaitu Belajar Ala Jigsaw,
Group Investigation, NHT (Numbered Head Together), Think
Pair Share, dan Crossword Puzzle.
Perbandingan
beberapa model pembelajaran kooperatif dapat dijelaskan sebagai berikut:
1.)
Kooperatif Belajar ala Jigsaw
Belajar ala Jigsaw
(menyusun potongan gambar) merupakan tehnik yang serupa dengan pertukaran
kelompok dengan kelompok, namun ada satu perbedaan penting: yakni tiap siswa
mengajarkan sesuatu. Ini merupakan alternatif menarik bila ada materi belajar
yang bisa disegmentasikan atau dibagi-bagi dan bila bagiannya harus diajarkan
secara berurutan. Tiap siswa mempelajari sesuatu yang bila digabungkan dengan
materi yang dipelajari oleh siswa lain, membentuk kumpulan pengetahuan atau
keterampilan yang padu.[13]
2.) Kooperatif Tipe
Group Investigation
Metode Group Investigation atau Investigasi
kelompok merupakan model pembelajaran kooperatif yang paling kompleks dan
paling sulit untuk diterapkan.[14]
Pendekatan ini memerlukan norma dan struktur kelas yang lebih rumit daripada
pendekatan yang lebih berpusat pada guru.[15]
Penerapan dari
investigasi kelompok ini yaitu guru membagi kelas menjadi kelompok-kelompok
dengan anggota 5 atau 6 siswa yang heterogen. Dalam beberapa kasus, kelompok
dapat dibentuk dengan mempertimbangkan keakraban persahabatan atau minat yang
sama dalam topik tertentu. Selanjutnya siswa memilih topik untuk diselidiki,
dan melakukan penyelidikan yang mendalam atas topik yang dipilih
itu.Selanjutnya siswa menyiapkan dan mempresentasikan laporannya kepada seluruh
kelas.[16]
3.) Kooperatif Tipe
NHT (Numbered Head Together)
Numbered
Head Together atau penomoran berfikir bersama merupakan “jenis
pembelajaran kooperatif yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa
sebagai alternative terhadap struktur kelas tradisional. Numbered Head
Together pertama kali dikembangkan oleh Spenser Kagen untuk melibatkan
lebih banyak siswa dalam menelaah materi yang tercakup dalam suatu pelajaran
dan mengecek pemahaman mereka terhadap isi pelajaran tersebut.[17]
Numbered
Head Together merupakan model pembelajaran dimana
siswa diberi nomor kemudian dibuat suatu kelompok kemudian secara acak guru
memanggil nomor dari siswa.[18]
Jumlah kelompok sebaiknya mempertimbangkan sebuah konsep yang dipelajari. Jika
jumlah peserta didik dalam satu kelas terdiri dari 40 orang dan terbagi menjadi
5 kelompok berdasarkan konsep yang di pelajari, maka tiap kelompok terdiri dari
8 orang. Tiap-tiap orang dalam kelompok diberi nomor 1-8.[19]
Teknik dalam
pembelajaran Numbered Head Together (NHT) ini memberikan kesempatan
kepada siswa untuk saling membagikan ide-ide dan mempertimbangkan jawaban yang
paling tepat. Selain itu juga mendorong siswa untuk meningkatkan semangat kerja
sama mereka. Teknik ini bisa digunakan dalam semua mata pelajaran dan untuk
semua usia tingkatan anak didik.[20]
4). Kooperatif Tipe Think Pair Share (TPS)
Model
kooperatif tipe TPS atau berfikir berpasangan berbagi adalah merupakan jenis
pembelajaran kooperatif yang yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi
siswa.[21]
Pertama-tama,siswa diminta untuk berpasangan. Kemudian guru mengajukan satu
pertanyaan/masalah kepada mereka. Setiap siswa diminta untuk berpikir
sendiri-sendiri dulu tentang jawaban atas pertanyaan itu. Setelah itu guru
meminta pasangan untuk menshare, menjelaskan, atau menjabarkan hasil
konsensus atau jawaban yang telah mereka sepakati pada siswa-siswa lain di
ruang kelas.[22]
Model pembelajaran kooperatif tipe ini siswa dituntut untuk mampu berfikir
dalam menyelesaikan masalah baik secara individu maupun kelompok.
5). Kooperatif Tipe Crossword Puzzle
Kooperatif tipe Crossword Puzzle
adalah suatu pembelajaran yang menyusun tes peninjauan kembali materi yang
sudah disampaikan dalam bentuk teka-teki silang yang diisi secara perseorangan
atau kelompok.[23]
Penelitian
ini menggunakan model pembelajaran kooperatif dengan tipe Crossword
Puzzle (Teka-teki Silang),
karena teka teki silang ini
berguna untuk mengasah otak bagi yang mengerjakannya. Ternyata teka teki silang
bukan hanya dilakukan oleh orang dewasa saja, tetapi anak-anak juga dapat
mengisi teka teki silang dengan materi pelajaran. Hal ini menguntungkan guru
untuk melakukan metode pembelajaran dengan menggunakan teka-teki silang dalam
pembelajaran.
Strategi belajar Crossword Puzzle, melibatkan partisipasi
peserta didik aktif sejak kegiatan pembelajaran dimulai. Peserta didik diajak
untuk turut serta dalam semua proses pembelajaran, tidak hanya mental akan
tetapi juga melibatkan fisik. Dengan ini peserta didik akan merasakan suasana yang
lebih menyenangkan sehingga hasil belajar dapat dimaksimalkan.[24]
2. Model Pembelajaran Kooperatif TipeCrossword
Puzzle
Dalam kamus Bahasa Indonesia
teka-teki silang (Crosword Puzzle) adalah teka-teki pengisian
kotak-kotak dengan kata-kata atau huruf.[25]Metode
Crossword Puzzle ini merupakan
susunan tes peninjauan kembali dalam bentuk teka-teki silang yang dapat
mengundang minat dan partisipasi peserta didik.Teka-teki silang ini bisa diisi
secara perseorangan atau kelompok.
a.
Langkah–langkah PenerapanCrossword Puzzle
Di dalam model pembelajaran kooperatif tipe Crossword Puzzle ada
beberapa langkah yang harus dilakukan, yaitu:[26]
1)
Langkah pertama adalah dengan menjelaskan beberapa istilah atau
nama-nama penting yang terkait dengan mata pelajaran yang telah Anda ajarkan.
2)
Susunlah sebuah teka-teki silang sederhana, dengan menyertakan banyak
mungkin unsur pelajaran. (Catatan: jika terlalu sulit untuk membuat teka-teki
silang tentang apa yang terkandung dalam pelajaran, sertakan unsur-unsur yang
bersifat menghibur, yang tidak mesti berhubungan dengan pelajaran sebagai
selingan.)
3)
Susunlah kata-kata pemandu pengisian teka-teki silang anda.
Gunakan jenis yang berikut ini:
(a) Definisi singkat (“sebuah tes untuk menentukan
reliabilitas”)
(b) Sebuah kategori yang cocok dengan unsurnya
(“jenis gas”)
(c) Sebuah contoh (“...undang-undang adalah
contohnya”)
(d) Lawan kata (“lawan kata demokrasi”)
4)
Bagikan teka-teki itu kepada siswa, baik secara perseorangan maupun
kelompok.
5)
Tetapkan batas waktunya. Berikan penghargaan kepada individu atau tim
yang paling banyak memiliki jawaban benar.
b.
KeunggulanCrossword Puzzle
Keunggulan Crossword Puzzle ini yaitu lebih
simpel untuk diajarkan, selain itu dapat melatih ketelitian atau kejelian siswa
dalam menjawab pertanyaan dan mengasah otak.
c.
KelemahanCrossword Puzzle
Setiap metode pembelajaran
pasti memiliki kelebihan dan kekurangan. Kekurangan atau kelemahan dari metode
pembelajaran Crossword Puzzle ini adalah
setiap jawaban teka-teki silang hurufnya ada yang berkesinambungan. Jadi siswa
merasa bingung apabila tidak bisa menjawab salah satu soal dan itu akan
berpengaruh pada jawaban siswa yang hurufnya berkaitan dengan soal yang siswa
tidak bisa menjawab.
Selain itu metode ini hanya
bisa diberikan pada akhir pembelajaran untuk dijadikan evaluasi oleh guru untuk
mengetahui sejauh mana pemahaman siswa setelah melakukanpembelajaran.
d. Cara Mengurangi Kelemahan Crossword Puzzle
Untuk mengurangi kelemahan dalam metode pembelajaran Crossword Puzzle ini yaitu
dengan cara pemberian bonus huruf pada kotak jawaban baik yang mendatar maupun
yang menurun. Hal ini dapat mengurangi kesalahan siswa dalam menjawab
pertanyaan karena sudah ada huruf yang ditentukan dalam kotak jawaban.[27]
3.
Hasil
Belajar
Untuk dapat melihat peningkatan
dalam pembelajaran seseorang pendidik harus mampu mengukur penguasaan peserta
didik terhadap konsep materi yang telah diberikan dengan melihat hasil belajar
peserta didik. Hasil belajar sering kali digunakan untuk mengetahui seberapa
jauh seseorang menguasai bahan yang diajarkan.[28]
Hasil belajar dapat dijelaskan
dengan memahami dua kata yang membentuknya, yaitu “hasil” dan “belajar”. Kata
hasil menunjukkan pada produk atau perolehan sebagai akibat dilakukannya sebuah
proses yang menyebabkan
terjadinya perubahan pada input dari sebuah sistem. Belajar menunjuk pada
sebuah proses yang ditandai dengan adanya interaksi antara komponen-komponen
pembelajaran. Hasil belajar merupakan dasar untuk menentukan tingkat
keberhasilan siswa dalam proses belajarnya.[29]
Menurut Bloom, hasil belajar
mencakup kemampuan kognitif, afektif dan psikomotorik.[30]Dalam taksonomi Bloom tujuan pembelajaran dapat diklasifikasikan kedalam tiga
ranah (domain) yaitu:
1.
Domain kognitif, berkenaan dengan kemampuan dan kecakapan-kecakapan intelektual berpikir.
2.
Domain afektif, berkenaan dengan sikap, penguasaan segi-segi emosional yaitu perasaan sikap dan nilai.
3.
Domain psikomotorik, berkenaan dengan satu keterampilan-keterampilan atau gerakan-gerakan fisik.[31]
Hasil belajar merupakan prestasi
belajar yang dimiliki peserta didik setelah mengikuti kegiatan belajar untuk
mengetahui sebatas mana mereka memahami serta mengerti materi
tersebut.Pemberian tekanan penguasaan materi akibat perubahan diri siswa
setelah belajar diberikan oleh Soedijarto yang mendefinisikan hasil belajar
sebagai tingkat penguasaan yang dicapai oleh siswa dalam mengikuti proses
belajar mengajar sesuai dengan tujuan pendidikan yang ditetapkan.[32]
Berdasarkan
beberapapendapat di atas dapat
disimpulkan bahwa hasil belajar merupakan suatu dasar dalam menentukan tingkat
keberhasilan siswa yang ditandai dengan perubahan diri siswa terhadap
penguasaan sejumlah bahan yang diberikan dalam proses belajar mengajar yang
mencakup aspek kognitif, afektif dan psikomotorik.
Penelitian
ini mengukurdari hasil belajar yaitu siswa mampu mencapai
penguasaan materi serta adanya perubahan dalam aspek kognitif yaitu siswa mampu
mengingat (remember), memahami (understand), menerapkan (apply),
menganalisis (analyze), mengevaluasi (evaluate), dan mencipta (create)
dalam proses belajar mengajar yang ditandai dengan meningkatnya hasil belajar
peserta didik itu sendiri.
4.
Mata Pelajaran
Fiqih
a.
Pengertian Fiqih
Menurut bahasa “fiqih” berasal dari
kata faqiha-yafqahu-fiqihan yang berarti mengerti atau paham berarti
juga paham yang mendalam. Dari sinilah ditarik perkataan fiqih, yang memberi
pengertian kepahaman dalam hukum syariat yang sangat dianjurkan oleh Allah dan
Rasul-Nya.Definisi fiqih secara umum, ialah suatu ilmu yang mempelajari
bermacam-macam syariat atau hukum islam dan berbagai macam aturan hidup bagi manusia, baik
yang bersifat individu maupun yang berbentuk masyarakat sosial.[33]
Ilmu fiqih secara umum adalah suatu
ilmu yang mempelajari bermacam-macam aturan hidup bagi manusia, baik yang
bersifat individu maupun yang berbentuk masyarakat sosial. Ilmu fiqih merupakan
suatu kumpulan ilmu yang sangat besar gelanggang pembahasannya, yang
mengumpulkan berbagai ragam jenis hukum Islam dan bermacam rupa aturan hidup,
untuk keperluan seseorang, segolongan, masyarakat, dan seumumnya manusia.[34]
Fiqih menurut Imam Zarkasy adalah
pengetahuan tentang hukum segala sesuatu menurut ajaran agama islam. Baik yang
mengenai cara beribadah yang khusus, seperti mengenai cara mengerjakan sholat,
cara berpuasa dan lain sebagainya. Ataupun yang mengenai cara bermasyarakat
(pergaulan) antara sesama makhluk seperti cara pinjam-meminjam, cara
berkeluarga dan lain sebagainya.[35]
Berdasarkan pendapat diatas, maka dapat disimpulkan
bahwa fiqih adalah ilmu yang membahas tentang hukum-hukum Islam (syara’)
melalui jalan ijtihad yang diperoleh atau berdasarkan dalil-dalil yang tafsili
atau terperinci. Adapun mata pelajaran fiqih dapat dipahami sebagai satuan
bidang ilmu(bidang studi) atau pokok
bahasan dalam kurikulum yang materinya bermuatan hukum-hukum Islam digali
berdasarkan rasio dari dalil-dalil yang tafsili.
b.
Pembelajaran Fiqih di Madrasah Ibtidaiyah (MI)
Pembelajaran fiqih untuk
tingkat dasar yaitu sebagai pengantar
fiqih untuk Madrasah Ibtidaiyah (MI) adalah dalam rangka ikut mencerdaskan kehidupan
bangsa, bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi
manusia yang beriman dan bertakwa kepada Allah swt., berakhlak mulia, sehat
berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis
serta bertanggung jawab.[36]
Mata
pelajaran Fiqih
di Madrasah Ibtidaiyyah bertujuan untuk membekali peserta didik agar dapat:
a) Mengetahui dan memahami cara- cara
pelaksanaan hukum Islam baik yang menyangkut aspek ibadah maupun muamalah untuk
dijadikan pedoman hidup dalam kehidupan pribadi dan sosial.
b) Melaksanakan dan mengamalkan
ketentuan hukum Islam dengan benar dan baik, sebagai perwujudan dan ketaatan
dalam menjalankan ajaran agama Islam baik dalam hubungan manusia dengan Allah,
dengan diri manusia itu sendiri, sesama manusia, makhluk lainnya ataupun
lingkungannya.
Permenag No. 2 Tahun 2008 didalamnya
menjelaskan
bahwa Standar Kompetensi Lulusan mata pelajaran Fiqih di Madrasah Ibtidaiyah ialah
siswa mampu mengenal dan melaksanakan hukum Islam yang berkaitan dengan rukun
Islam, mulai dari ketentuan dan tata cara pelaksanaan thaharah, shalat, puasa,
zakat, sampai dengan pelaksanaan ibadah haji, serta ketentuan tentang makanan
dan minuman, khitan, kurban dan cara pelaksanaan jual beli dan pinjam meminjam.[37]
Mempelajari fiqih dari kecil itu bisa dijadikan pengamalan atau pengetahuan yang diharapkan untuk
menumbuhkan ketaatan menjalankan hukum islam, disiplin, dan tanggung jawab
sosial yang tinggi dalam kehidupan pribadi maupun sosial. Dengan demikian, jelaslah bahwa mata pelajaran fiqih sangat penting
sesuai dengan apa yang dikembangkan serta diharapkan dapat memahami dan
mengamalakan syari’at Islam dalam kehidupan dan bertaqwa kepada Allah SWT.
c.
Ruang
Lingkup Mata Pelajaran Fiqih di MI
Ruang
lingkup mata pelajaran Fiqih di Madrasah Ibtidaiyyah meliputi:
1). Fiqih ibadah; yang menyangkut pengenalan
dan pemahaman tentang cara pelaksanaan rukun Islam yang benar dan baik,
seperti: tata cara thaharah, shalat, puasa, zakat, ibadah haji.
2). Fiqih Muamalah; yang menyangkut
pengenalan dan pemahaman mengenai ketentuan tentang makanan dan minuman yang
halal dan haram, khitan, kurban serta tata cara pelaksanaan jual beli dan
pinjam meminjam.[38]
Penelitian
ini dibatasi pada materi pokok puasa Ramadan yaitu pada
subbab “Puasa Ramadan” dengan Materi ajar yang disampaikan
tentang pengertian puasa,syarat
wajib puasa, rukun puasa, hal-hal yang membatalkan puasa, orang yang boleh
meninggalkan puasa, niat puasa Ramadan, doa buka puasa, serta melaksanakan
puasa Ramadan dengan baik dan benar.
5. Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif TipeCrossword Puzzlepada Siswa Kelas III MI dalam Pembelajaran Fiqih
Proses
pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Crossword Puzzle terlebih dahulu siswa
diberi penjelasan mengenai materi yang akan dipelajari yakni materi Puasa
Ramadan. Setelah itu, 32 siswa MI dibagi menjadi 16 kelompok dengan masing
masing kelompok terdiri dari dua anak.Dengan rincian, masing-masing anak yang
mendapat nilai rendah dipasangkan dengan anak yang mendapat nilai tinggi.
Langkah yang
dilakukan selanjutnya adalah guru membagikan Lembar Kegiatan Siswa (LKS) yang
sudah dibuat oleh guru dengan model pembelajaran kooperatif tipe Crossword Puzzle, kemudian setiap
kelompok disuruh mengerjakan dengan pasangan kelompoknya masing-masing dan
diberi waktu 15 menit untuk mengerjakan soal. Setelah waktu habis harus
dikumpul LKSnya kemudian kelompok yang mengisi kotak jawaban lebih banyak dan
benar maka akan diberi skor 100 atau mendapatkan hadiah.
Langkah
selanjutnya adalah guru bersama siswa menyimpulkan materi yang telah dipelajari
kemudian melakukan evaluasi pada pada pertemuan berikutnya untuk mengukur
kemampuan mereka.
B. Hasil Penelitian yang Relevan
Hasil penelitian yang relevan dengan penelitian ini
adalah Skripsi di Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang, hasil penelitian yang dilakukan
oleh M. Husein (2010) yang menyimpulkan bahwa pembelajaran kooperatif melalui
strategi Crossword
Puzzle terbukti dapat meningkatkan
motivasi belajar akidah akhlak khususnya materi Akhlak Terpuji dan Akhlak
Tercela pada siswa kelas VII MTS Yaspuri di Malang. [39]
Selain itu juga Skripsi di Universitas Muhammadiyah Fakultas Agama Islam Ponorogo, hasil penelitian yang dilakukan oleh Iin Nasi’ah (2014)
dengan menerapkan metode Crossword Puzzle dapat meningkatkan prestasi
belajar Pendidikan Agama Islam dengan materi Asmaul Husna pada siswa kelas V
Sekolah Dasar Negeri Kemuning IV Kecamatan Tegalombo Kabupaten Pacitan.[40]
Perbedaan dengan penelitian
terdahulu yaitu M. Husein meneliti tentang motivasi
belajar Akidah Akhlak materi Akhlak Terpuji dan Akhlak Tercela, dan Iin Nasi’ah
meneliti tentang prestasi belajar PAI materi Asmaul Khusna.Sedangkan penelitian
ini meneliti tentang hasil belajar Fiqih materi pokok Puasa Ramadan.
C. Kerangka Fikir
Kerangka
fikir merupakan jalan atau alur fikiran dalam rangka mencapai kearah pemecahan
masalah menggunakan atau memilih metode tertentu dengan salah satu judul
penerapan model pembelajaran kooperatif tipeCrossword Puzzleuntuk meningkatkan hasil belajar siswa pada mata
pelajaran fiqih siswa kelas III MIMiftahul Ulum Braja Selebah tahun pelajaran 2014/2015. Adapun
gambar kerangka fikir adalah sebagai berikut:
Gambar 1

Maksud dari gambar 1 yaitu
dengan menerapkan model pembelajaran Crossword Puzzle kepada siswa kelas
III MI Miftahul Ulum dapat meningkatkan
hasil belajar siswa pada mata pelajaran fiqih materi pokok Puasa Ramadan.
D.
Hipotesis
Hipotesis tindakan merupakan
jawaban sementara terhadap masalah yang dihadapi, sebagai alternatif tindakan
yang dipandang paling tepat untuk memecahkan masalah yang telah dipilih untuk
diteliti melalui PTK.[41]
Dugaan sementara pada penelitian
tindakan kelas ini adalah dengan menggunakan modelpembelajaranCrossword Puzzledapat
meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran Fiqih di MI Miftahul Ulum
Braja Selebah Tahun Ajaran 2014/2015
.
[1]Abdul Majid, Strategi Pembelajaran, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya. 2014) hal
174
[2] Taman Firdaus, Pembelajaran Aktif (Aspek, Teori dan Implementasi), (Yogyakarta: Elmatera,
2012) hal 149
[3]Wina Sanjaya, Strategi
Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2006) hal 242
[4]Miftahul
Huda.Cooperative Learning (Metode,
Teknik, struktur dan model penerapan). (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2011)
hal33
[7]Syaiful
Bahri Djamarah, Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif, (Jakarta:
Rineka Cipta, 2010) hal 364
[9] Riezcha Aniez M, Teori Pembelajaran Vygotsky dalam Cooperative Learning, http://penembushayalan.wordpress.com/kuliah/tokoh dan teori belajar/teori pembelajaran vygotsky/ diakses 17 Desember 2014
[10]Trianto,
Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif, (Jakarta: Kencana, 2010) hal
56
[12]Agus
Suprijono, Cooperative Learning (Teori, Aplikasi dan Paikem), (Yogyakarta:
Pustaka Pelajar, 2009) hal 39
[13]Melvin L. Silberman. Aktive Learning 101 Cara Belajar Siswa Aktif. (Bandung: Nusamedia, 2013) hal 180
[14]Abdul Majid, Op. Cit, hal 189
[16]Abdul Majid, Op. Cit
[18]Kokom
Komalasari, Pembelajaran Kontekstual (Konsep dan Aplikasi),
(Bandung:Revika Aditama, 2010), hal 62
[25] Soeharso, dkk, Kamus Bahasa
Indonesia Lengkap, (Semarang: Widya Karya, 2011), hal 512
[26] Melvin L. Silberman, Op.Cit, hal 256 - 257
[29]Taman
Firdaus, Op. cit, hal 82
[30]Agus
suprijono. Op. cit. hal 6
[31]Rusman, Model-model
Pembelajaran Mengembangkan Profesionalisme Guru. (Jakarta: PT Raja Grafindo
Persada, 2012) hal125
[32]Purwanto,
Op. cit. hal 46
[33]Azizah Arkarna, Dunia Fiqih, http://dunia-fiqih.blogspot.com/2011/11/pengertian-fiqih-dan-ushul-fiqih.html diakses 8 Desember 2014.
[35]Imam
Zarkasi, Pelajaran Fiqih 1 Syahadat, Thaharah, dan Shalat,
(Ponorogo:Trimurti, 1995) hal 1
[36] Anis Tanwir Hadi, Pengantar Fikih 3 untuk kelas III Madrasah
Ibtidaiyah, (Surakarta: PT Tiga Serangkai Pustaka Mandiri, 2008) hal V
[37] Varossita, Telaah Kurikulum Fiqh Madrasah Ibtidaiyah http://varossita.blogspot.com/2010/10/telaah-kurikulum-fiqh-madrasah.html diakses 20 Desember 2014
[39] Eva Nia, ProSkripsi http://www.proskripsi.com/2013/05/download skripsi pai implementasi_2438.htmldiakses 22 Januari 2015
[40]Iin Nasi’ah, Skripsihttp://lib.umpo.ac.id/gdl/files/disk1/14/jkptumpo-gdl-iinnasiah-699-1-abstrak-i.pdf diakses 22 Januari 2015
[41]E.
Mulyasa, Praktik Penelitian Tindakan Kelas, (Bandung: Remaja Rosdakarya,
2011) hal 63
METODOLOGI PENELITIAN
A.
Pendekatan Penelitian dan Desain
Penelitian
1. Pendekatan
Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian tindakan kelas (Classroom
Action Research). Penelitian Tindakan
Kelas
(PTK) adalah suatu pencermatan terhadap kegiatan belajar berupa sebuah tindakan
yang sengaja dimunculkan dan terjadi dalam sebuah kelas secara bersama.[1]Action Research yaitu kegiatan penelitian untuk mendapatkan kebenaran dan manfaat praktis
dengan cara melakukan tindakan secara kolaboratif dan partisipasif.[2]
Penelitian dengan menggunakan pendekatan Classroom Action Reseach yaitu kegiatan penelitian
untuk mendapatkan kebenaran dari suatu tindakan yang
dilakukan dalam sebuah kelas secara bersama. Sedangkan tindakan dalam penelitian ini adalah penelitian
dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Crossword Puzzle di kelas III MIMiftahul Ulum Braja Selebah untuk meningatkan hasil belajar
siswa pada mata pelajaran fiqih
materi pokok puasa Ramadan.
2. Desain
Penelitian
Desain
penelitian dalam penelitian ini menggunakan siklus yang dapat digambarkan sebagai berikut :
|
28
|
Alur pelaksanaan tindakan
kelas
|
Perencanaan
|
|
SIKLUS I
|
|
Pengamatan
|
|
Perencanaan
|
|
Pelaksanaan
|
|
Refleksi
|
|
SIKLUS II
|
|
Pengamatan
|
|
Pelaksanaan
|
|
Refleksi
|
|
?
|
Gambar 2 : Desain
adaptasi Kemmis dan MC Taggart
Pelaksanaan penelitian
pembelajaran ini
dilaksanakan dalam dua siklus, setiap
siklus masing-masing dua kali
pertemuan dengan setiap pertemuan masing-masing 2 jam pelajaran.
a. Siklus I
Pada siklus ini, setiap
pertemuan terbagi menjadi 4 langkah penelitian tindakan kelas yaitu
perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi.
1)
Perencanaan
Peneliti bersama-sama dengan
guru merencanakan tindakan. Tindakan ini bersifat kolaboratif, peneliti bertindak sebagai pelaksana tindakan dan
guru bertindak sebagai observator. Pada tahap
ini peneliti menentukan fokus permasalahan yang akan diamati, kemudian peneliti
merekam fakta yang terjadi selama tindakan berlangsung. Adapun rinciannya sebagai
berikut:
(a)
Peneliti membuat kesepakatan bersama guru untuk menetapkan materi pokok.
(b)
Menentukan hari dan tanggal melakukan penelitian.
(c)
Membuat semua perangkat pembelajaran yang
diperlukan, seperti RPP serta pokok bahasan yang akan disampaikan.
(d)
Menyiapkan
lembar kegiatan siswa (LKS)
(e)
Peneliti
membuat LKS berdasarkan materi dan tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.
Lembar kegiatan siswa ini akan dikerjakan secara kelompok.
(f)
Persiapan lembar observasi
pembelajaran untuk setiap pembelajaran Fiqih.
(g)
Persiapan soal tes yang akan
diberikan pada awal penelitian dan setiap siklus.
(h)
Membagi siswa
dalam kelompok.
Peneliti membagi siswa dalam Kelompok berdasarkan nilai
siswa. Kelompok
siswa terdiri dari kelompok heterogen yaitu siswa berkemampuan tinggi, sedang
dan rendah. Siswa yang memiliki nilai yang tinggi dipasangkan dengan
siswa yang memiliki nilai rendah. Nilai diperoleh dari data nilai uji blok materi
sebelumnya.
2) Pelaksanaan
Pelaksanakan isi dan rancangan yang telah dibuat oleh peneliti sebelumnya dan
dikonsultasikan dengan guru fiqih. Penelitian
ini dilaksanakan dengan 2 siklus. Pada siklus I pertemuan I rencana pelaksanaan pembelajarana dalah
sebagai berikut:
a)
Kegiatan awal
(1)
Siswa bersama guru berdoa sebelum memulai
pelajaran.
(2)
Siswa
menyiapkan buku mata pelajaran Fiqih.
(3)
Siswa diberi motivasi dalam mengikuti
materi pembelajaran.
(4)
Apersepsi/menghubungkan materi yang
sekarang dengan materi sebelumnya yaitu tentang puasa Ramadan.
b)
Kegiatan inti
(1)
Guru
memberikan materi tentang pengertian puasa,
syarat wajib puasa, dan rukun puasa. (eksplorasi)
(2)
Guru membagi kelas menjadi beberapa kelompok kecil menjadi 16 kelompok yang terdiri dari 2 siswa perkelompoknya. Siswa yang
mendapat nilai tinggi berpasangan dengan siswa yang mendapat nilai rendah. (eksplorasi)
(3)
Siswa diberi kertas yang berisi soal teka-teki silang
untuk dijawab bersama dengan kelompoknya yang diberi waktu 15 menit untuk
menjawab.(eksplorasi dan elaborasi)
(4)
Guru
membahas jawaban teka-teki
silang bersama dengan siswa. (elaborasi)
(5)
Guru
memberikan
reward berupa hadiah maupun pujian kepada kelompok yang paling banyak mengisi
kotak teka-teki silang dengan
benar.
(6)
Guru
memberikan kesimpulan dan memberi waktu kepada siswa untuk bertanya. (konfirmasi)
c)
Penutup
(1) Siswa
bersama guru melakukan evaluasi terhadap materi yang telah dipelajari.
(2) Siswa diberi informasi bahwa
pertemuan selanjutnya akan membahas tentang hal-hal yang membatalkan puasa dan orang yang boleh meninggalkan puasa, dan dilaksanakan
post tes.
(3) Siswa
membaca doa sebelum mengakhiri pelajaran.
Pada pertemuan
2, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) adalah sebagai berikut:
a)
Kegiatan awal
(1)
Siswa bersama guru berdoa sebelum memulai
pelajaran.
(2)
Siswa menyiapkan buku mata pelajaran
fiqih.
(3)
Siswa diberi motivasi dalam mengikuti
materi pembelajaran.
(4)
Apersepsi/menghubungkan materi yang sekarang dengan materi sebelumnya yaitu tentang
hal-hal yang membatalkan puasa dan orang yang boleh meninggalkan
puasa.
b)
Kegiatan inti
(1)
Guru
memberikan materi tentang
hal-hal yang membatalkan puasa dan orang yang boleh meninggalkan puasa. (eksploras)
(2)
Guru membagi kelas menjadi beberapa kelompok kecil menjadi 16 kelompok yang terdiri dari 2 siswa perkelompoknya. Siswa yang mendapat nilai
tinggi berpasangan dengan siswa yang mendapat nilai rendah. (eksplorasi)
(3)
Siswa diberi kertas yang berisi soal teka-teki silang
untuk dijawab bersama dengan kelompoknya yang diberi waktu 15 menit untuk
menjawab. (eksplorasi dan elaborasi)
(4)
Guru
membahas jawaban teka-teki
silang bersama dengan siswa. (elaborasi)
(5)
Guru
memberikan
reward berupa hadiah maupun pujian kepada kelompok yang paling banyak mengisi
kotak teka-teki silang
dengan benar.
(6)
Guru
memberikan kesimpulan dan memberi waktu kepada siswa untuk bertanya. (konfirmasi)
c)
Penutup
(1)
Siswa bersama guru melakukan evaluasi terhadap
materi yang telah dipelajari.
(2)
Guru memberikan post-test.
(3)
Siswa membaca doa sebelum mengakhiri pelajaran.
3) Observasi
Observasi atau pengamatan yang berkaitan dengan
pelaksanaan yang dilakukan dengan menggunakan lembar observasi yang telah di
siapkan. Pengamatan ini ditujukan untuk mengamati
hasil belajar siswa pada saat pembelajaran dan setelah pembelajaran.
4) Refleksi
Refleksi adalah kegiatan menganalisis
dan membuat kesimpulan berdasarkan hasil dan tes pengamatan. Refleksi digunakan
dengan menganalisis hasil observasi dan tes yang digunakan sebagai dasar untuk
perbaikan siklus berikutnya.
b.
Siklus
II
Proses
pembelajaran pada siklus II merupakan proses perbaikan terhadap kesulitan dan
kelemahan yang terjadi pada siklus I. Posedur pada siklus II sama dengan
prosedur pelaksanaan pada siklus I yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi.
B. Lokasi dan Waktu Penelitian
1.
Lokasi Penelitian
Tempat
Penelitian : MI Miftahul Ulum
Alamat : Braja Harjosari, Kecamatan Braja Selebah,
Kabupaten
Lampung-Timur.
2.
Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada semester genap tahun 2014/2015.
C. Variabel
Penelitian
Variabel penelitian ini adalah variabel bebas (x)
dan variabel terikat (y). Yang menjadi variabel bebas (x) adalah pembelajaran
kooperatif tipe Crossword Puzzle sedangkan variabel terikat (y) adalah hasil belajar.
D.
Definisi Operasional Variabel
1.
Crossword Puzzle
(teka-teki silang)
Pembelajaran Crossword Puzzle ini merupakan variabel bebas dalam
penelitian di MI Miftahul Ulum dan tehnik model
pembelajaran Crossword Puzzle ini yaitu guru membagi siswa menjadi beberapa
kelompok kecil kemudian setiap kelompok diberi lembar kegiatan siswa (LKS) yang
berisi pertanyaan, pertanyaan itu dibagi menjadi dua bagian misal: 10 soal, 5
soal untuk soal yang mendatar dan 5 soal lagi untuk soal yang menurun, yang sudah dibuat oleh guru dengan metode Crossword Puzzle (teka-teki silang).
Untuk pengisian
dari semua pertanyaan dari soal tersebut yaitu jawaban diisi dan disusun didalam
kotak-kotak yang dibuat berbaris mendatar
dan menurun, yang sesuai dengan soal yang telah dibuat. Kemudian setiap kelompok diberi waktu
15 menit, atau yang paling cepat untuk menjawab soal-soal tersebut, setelah itu
LKS dikumpul dan dikoreksi bersama-sama, dan kelompok yang mejawab paling banyak dengan tepat dan benar maka akan diberi
reward
berupa hadiah maupun skor 100 oleh
guru.
Penerapan metode pembelajaran
Crossword Puzzle (teka-teki silang) ini
dapat meningkatkan hasil belajar fiqih karena setiap peserta memiliki
tanggung jawab terhadap jawaban yang diajukan oleh guru.
2.
Hasil Belajar
Hasil belajar Fiqih merupakan
variabel terikat dalam penelitian ini. Hasil belajar
dalam penelitian ini merupakan prestasi belajar yang dimiliki peserta didik
setelah mengikuti kegiatan belajar
khususnya pembelajaran Fiqih untuk mengetahui sebatas mana mereka
memahami serta mengerti materi Fiqih tersebut. Skor atau nilai yang harus
dicapai oleh peserta didik minimal adalah 70 setelah dilakukannya metode Crossword
Puzzle.
E.
Subjek Penelitian
Subjek penelitian adalah semua siswa kelas III MI Miftahul Ulum Braja Selebah dengan jumlah 32 siswa ( 19 laki-laki dan 13 perempuan).
F. Teknik Pengumpulan Data
1. Metode Pengumpulan Data
Adapun
metode yang digunakan untuk pengumpulan data pada penelitian tindakan kelasi
ini yaitu: tes dan dokumentasi.
a. Tes
Untuk
mengukur ada atau tidaknya serta besarnya kemampuan objek yang diteliti
digunakan tes. Tes instrumen pengumpulan data digunakan untuk mengukur
kemampuan siswa dalam aspek kognitif, atau penguasaan materi pembelajaran.[3] Sedangkan dalam
penelitian ini peneliti menggunakan pre-test
untuk mengukur hasil belajar Fiqih sebelum
dilakukannya model pembelajaran kooperatif tipe
Crossword Puzzle.
b.
Metode Dokumentasi
Dokumentasi dari kata dokumen, yang artinya barang-barang
tertulis. Di dalam melaksanakan metode dokumentasi, peneliti menyelidiki
benda-benda tertulis seperti buku-buku,
majalah dokumen, peraturan, notulen rapat, catatan harian dan
sebagainya.[4]
Metode
ini berguna untuk mendokumentasikan hal-hal yang berkaitan dengan penelitian yang
berfungsi sebagai bukti fisik yang akurat. Dokumentasi adalah berupa
barang-barang yang tetulis yaitu mencari data mengenai hal-hal atau variabel
yang berupa catatan, transkip nilai, buku, silabus, profil sekolah.
c. Metode Observasi
Metode observasi adalah metode atau cara-cara
menganalisis dan mengadakan pencatatan secara sistematis mengenai tingkah laku
dengan melihat atau mengamati individu atau kelompok secara langsung.Cara atau
metode tersebut pada umumnya ditandai oleh pengamatan tentang apa yang benar-benar
dilakukan oleh individu, dan membuat pencatatan-pencatatan secara objektif
mengenai apa yang diamati. Cara atau metode tersebut dapat juga dilakukan
dengan menggunakan teknik dan alat-alat khusus seperti blangko-blangko, checklist, atau daftar isian yang telah
dipersiapkan sebelumnya.[5]
Metode ini digunakan sebagai metode pendukung untuk memperoleh data
tentang sarana fisik, struktur organisasi dan denah lokasi.
2. Instrumen Penelitian
Instrumen
penelitian atau alat yang akan digunakan dalam penelitian ini meliputi :
a. Tes
Tes
digunakan untuk mengetahui tingkat kemampuan pembelajaran dengan metode pembelajaran Crossword Puzzle setelah proses pembelajaran
dilaksanakan pada kelas III MI Miftahul Ulum Braja Selebah.
Penelitian ini
menggunakan jenis tes individual dan kelompok. Tes individual diberikan dalam
bentuk Pre-test dan
Post-test. Sedangkan
tes kelompok dilakukan secara bersama-sama oleh siswa selama model pembelajaran Crossword
Puzzle yang diterapkan.
Pada setiap siklus guru memberikan
tes untuk mengukur kemampuan siswa dalam penguasaan materi dengan menggunakan metode pemebalajaran Crossword Puzzle dalam pembelajaran. Pada saat
melaksanakan tes tertulis kelas III MI Miftahul Ulum Braja Selebah Tahun Pelajaran 2014/2015 yang berjumlah 32 siswa dibagi menjadi enam belas Kelompok, masing-masing terdiri
dari 2 siswa perkelompoknya. Kemudian siswa yang mendapat nilai
tinggi dipasangkan dengan siswa yang mendapat nilai rendah.
b. Non
Tes
Teknik non tes yang dilakukan dalam
penelitian ini adalah observasi. Observasi digunakan untuk mengetahui tentang respon dan
sikap siswa terhadap pemahaman pembelajaran sub materi terhadap puasa
Ramadan dengan
menggunakan model
pembelajaran kooperatif tipe Crossword Puzzle.
3. Uji Validitas dan Reliabilitas Instrumen
Penelitian
Agar data dalam penelitian dapat
dikatakan valid, maka perlu adanya uji keabsahan data, adapun uji keabsahan
data dilakukan dengan uji validitas dan uji reliabilitas.
Menurut
Azwar Validitas berasal dari kata validity yang mempunyai arti sejauh
mana ketepatan dan kecermatan suatu alat ukur dalam melakukan fungsi ukurnya. Sisi lain dari
pengertian validitas adalah aspek kecermatan pengukuran. Suatu alat ukur yang
valid tidak hanya mampu menghasilkan data yang tepat akan tetapi juga harus
memberikan gambaran yang cermat mengenai data tersebut.[6]
Validitas merupakan syarat yang terpenting dalam suatu
alat evaluasi.[7]
Agar
data dalam penelitian ini dapat
dikatakan valid, maka perlu adanya uji keabsahan data, adapun uji keabsahan
data dilakukan dengan uji validitas dan uji reliabilitas. Uji validitas bisa
dilakukan dengan uji validitas isi. Sebuah tes dikatakan
memiliki validitas isi apabila mengukur tujuan khusus tertentu yang sejajar
dengan materi atau isi pelajaran yang diberikan. Oleh karena meteri yang diajarkan tertera dalam kurikulum.[8]
Berikut
merupakan prosedur yang dapat digunakan, antara lain:
a.
Mendefiniskan
domain yang hendak diukur.
Domain
yang hendak diukur dalam penelitian ini adalah hasil belajar siswa pada mata pelajaran
fiqih setelah digunakannya metode Crossword
Puzzle.
b.
Menentukan
domain yang akan diukur oleh masing-masing soal. Setiap soal memiliki
indikator yang sesuai dengan materi yang diajarkan. Tabel dibawah ini adalah keabsahan data yang dilakukan dengan uji validitas isi yakni
sebagai berikut:
Tabel
3.1
Perbandingan Indikator yang diukur dengan Soal
|
Indikator
|
Soal Crossword Puzzle no.
|
|
-
Memahami pengertian puasa
Ramadan, dan mampu menyebutkan syarat wajib puasa.
|
1, 2,3,4,5,6,7,8,11,
12,13(terlampir)
|
|
-
Mengetahui rukun puasa.
|
9, 14,11 (terlampir)
|
|
-
Menyebutkan hal-hal
yang membatalkan puasa.
|
10,1,2,15(terlampir)
|
|
- Mengetahui orang yang boleh meninggalkan puasa.
|
3, 4, 14 (terlampir)
|
|
- Mengetahui niat puasa dan doa buka puasa.
|
8,15 (terlampir)
|
|
- Melaksanakan puasa Ramadan dengan baik dan benar.
|
5,6, 12 (terlampir)
|
|
- Mengetahui hal-hal yang dapat mengurangi pahala puasa.
|
7, 9 (terlampir)
|
|
- Mengetahui manfaat atau faedah puasa.
|
10, 13 (terlampir)
|
c. Membandingkan
masing-masing soal dengan domain yang sudah ditetapkan.
Penelitian
ini menggunakan tes dengan butir soal 10, kemudian soal tersebut disesuaikan
dengan kurikulum dan indikator keberhasilan mata pelajaran Fiqih yang digunakan.
Tes yang dibuat sudah diperiksa oleh guru mata pelajaran Fiqih yang
bersangkutan dan sudah diuji validitas isinya.
Item instrumen yang valid sudah
tentu reliabel. Namun reliabilitas instrumen yang sudah diketahui harus
terlebih dahulu diuji secara empiris, agar diketahui besarnya koefisien
reliabilitas.
Reliabilitas berasal
dari kata rely yang artinya percaya dan reliable yang artinya dapat dipercaya. Keterpercayaan berhubungan dengan ketetapan dan
konsistensi. Tes hasil belajar dikatakan dapat dipercaya apabila memberikan hasil
pengukuran hasil belajar yang relative tetap secara konsisten.[9]
Reliabilitas diartikan dengan
keajekan (konsistensi) bila mana tes tersebut diuji berkali-kali hasilnya
relatif sama, artinya setelah hasil tes yang pertama dengan tes yang berikutnya
dikorelasikan terdapat hasil korelasi yang signifikan.
G.
Tehnik Analisa Data
Penelitian ini akan dianalisis
menggunakan analisis kualitatif dan kuantitatif. Analisis data kualitatif digunakan
untuk menetukan peningkatan proses belajar khususnya tindakan yang dilakukan
oleh peneliti yaitu dengan menggunakan metode pembelajara Crossword Puzzle. Sedangkan analisis data
kuantitatif digunakan untuk menentukan peningkatan hasil belajar siswa sebagai
pengaruh dari setiap tindakan yang dilakukan oleh peneliti.
Rumus yang
digunakan untuk
mencari rata-rata hasil belajar siswa adalah:
P =
x 100 %
Keterangan:
P = Presentase
F
= Frekuensi
H. Indikator Keberhasilan Tindakan
Indikator
keberhasilan tindakan dalam penelitian ini adalah adanya peningkatan hasil
belajar siswa sesudah diberikan metode pembelajaran Crossword Puzzle
dengan siklus I dan siklus II. Tindakan
dikatakan berhasil apabila siswa memperoleh nilai kriteria ketuntasan minimal
70, dan siswa yang mencapai KKM minimal 75% dari seluruh siswa.
[1]Suharsimi
Arikunto dkk, Penelitian Tindakan Kelas, (Jakarta: Bumi Aksara, 2009)
hal 3
[3]Wina Sanjaya, Penelitian
Tindakan kelas, (Jakarta: Kencana, 2009), hal 99
[4]Suharsimi
Arikunto, Prosedur Penelitian, (Jakarta: Rineka Cipta, 2010), hal 201.
[5]Ngalim Purwanto, Prinsip-Prinsip dan Teknik Evaluasi
Pengajaran. (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2010) hal: 149.
[6]Merlita Futriana, Uji Validitas dan Reliabilitas Instrumen Penelitian http://merlitafutriana0.blogspot.com/p/validitas‑dan‑reliabilitas.html?showComment=1419561517391 diakses 26
Desember 2014
[7]M. Ngalim
Purwanto, Prinsip Prinsip Dan Teknik Evaluasi Pengajran, (Bandung: PT.
Remaja Rosdakarya, 2012) hal 137
[8]Suharsimi
Arikunto, Dasar Dasar Evaluasi Pendidikan, (Bandung: Bumi Aksara,
2008)
hal 82
[9]Purwanto,
Evaluasi Hasil Belajar, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2013) Hal 153

Tidak ada komentar:
Posting Komentar